Saturday, January 21, 2012

Like It Or Not

                                           Spark On Flowers
                                      (Photo by : Fanny (me)) 


Kenapa ya like it or not? Suka atau tidak. 
well, kita dilahirkan dengan berbagai macam hal unik dan berbeda. Semuanya menjadi kesatuan yang mungkin dapat menjadi bagian kesukaan atau ketidaksukaan. 
Permasalahannya seberapa banyak sih kita bisa menerima banyak hal yang terutama menjadi ketidaksukaan kita?
Saya sendiri juga termasuk orang yang resisten pada awal-awalnya. Memang tidak semudah bayangan untuk menyukai sesuatu yang memang kita tidak sukai.
Bertoleransi terhadap apa yang disukai secara berbeda juga bisa membawa masalah baru pada awal-awalnya.
Orang-orang juga menghadapinya dengan cara yang berbeda-beda juga. Sangat bersyukur apabila semua yang dipikirkan ternyata sesuai dengan ekspektasi yang kita inginkan, namun ketika banyak hal ternyata meleset dari apa yang sudah kita harapkan, reaksi bermacam-macam bisa muncul seketika.
Ada yang mempertanyakannya, ada yang menyimpan dalam hati, ada juga yang membicarakannya langsung terhadap yang bersangkutan, ada juga yang diam tapi membicarakannya dengan orang lain yang bisa mengerti atau bahkan hanya sebagai tempat bercerita saja untuk mendapatkan dukungan atau sekedar tempat berbagi.
Suka atau tidak, kita hanyalah manusia biasa dengan karakter masing-masing yang unik.
Kalau saya pikir wajar kita memiliki hal yang disukai dan tidak.
Saya tidak akan mengatakan mudah untuk menghadapi hal yang tidak disukai. Tidak juga sulit sebenarnya untuk beberapa orang. 
Dan juga tidaklah mudah untuk mengerti tentang keadaan yang bisa bermacam-macam, walaupun bagi beberapa orang hal tersebut dapat dilakukan dengan mudah.
Jadi....
Tetaplah menjadi sendiri dengan beberapa fleksibilitas.
Kita tidak dapat memaksa diri sendiri untuk bisa menerima keadaan berbeda di luar kita atau kita dapat mengusahakannya secara perlahan.
Apakah kita melakukan itu agar kita disukai orang-orang?
Masalah disukai atau tidak pun merupakan hal yang relatif. 
Diri kita lah yang paling penting untuk mendapatkan perhatian sebelum siap untuk memberikan perhatian bagi orang lain.
Karena,
hanya kitalah yang mengerti mengenai diri kita masing-masing
Like it or not




                                                 

Cake Me Here

Cream Raisin Cup Bread
(Sumber Hidangan est 1929 Braga, Photo by : me)









A portion of cream raisin cup bread opened my view this morning. This cloudy morning with its windy breeze welcomed me and another cup of coffee would be part of a good company.
Slightly, I heard someone singing " Never mind I'll find someone like you....." (adele)
A bit misgiving in this morning...
While the sun seems not to show its shine. 
I have just realized that the summer haze has been over. Despite a huge celebration of Chinese New Year and church ceremonial, I have kept feeling restless.
Frankly speaking I haven't felt this way so far and now I do get it.


                                            Almond Spread Pastry          (Sumber Hidangan est 1929 Braga, Photo by me)
                                          




I came for the second menu. The song, by the way, really reminded me of what has happened so far. I realized that there would always be up and down in this life. I knew that every step of life would tend to be like a wheel, spinning somehow without a clear destination everybody knew.
Only I and anybody knew what we would be through later on.
I swore deeply in mind that I would try anything to the edge of my limit, though it would make me trapped in such pain and glory.
Talking about love meant it would be unending process.
For some people it would be like a piece of cake, yet for others it could be making some complexity endlessly.

Seeing the window, I only felt more windy breeze while the sun still hid itself under the cover of clouds.
I used to think that I would like to feel the fever in love and care
When the current way did not allow me to do so, unbearably I would continue myself
To unending destination for my body and my mind

To whereever the wind breezed me softly

And my journey would begin as the time I had finished with my cakes here.

Friday, October 21, 2011

Feeling happiness from A to Z


By F.S.A
Feeling happiness is an everybody’s want and many people look for it even though they have needed such long time or hard efforts for it. 

For some time, I have even not realized if feeling happiness may come by itself or be searched for indeed. Some people have distinguished traits of finding their own happiness. Some believe that it will come when their time is determined exactly for this or even they need some struggling moment to reach it.

For some people, feeling of happiness is reserved in their own mind and soul.
For some people, feeling of happiness even never comes in their life. Really?

What does your feeling of happiness originate from?
a.       I sometimes have it from every food I find everywhere I go…hahahaha…(it is so me)

What does your feeling of happiness originate from?
b.      I get a hug from someone I love and whisper for me saying a love too without any barrier.

What does your feeling of happiness originate from?
c.       I reserve it when I am able to do anything I want

What does your feeling of happiness originate from?
d.      Hey, there is a new device for my music. I ll go get it then

What does your feeling of happiness originate from?
e.      Getting my blanket and covering myself with it in this cold day

What does your feeling of happiness originate from?
f.        Your gentle touch to my hand

What does your feeling of happiness originate from?
g.       When I can see your face even though you are far away

What does your feeling of happiness originate from?
h.      When I see my mail from the person or someone who d like to hire me. Yippie

What does your feeling of happiness originate from?
i.         To see my mom smiling…more than everything…

What does your feeling of happiness originate from?
j.        To receive a phone call from someone I or you love….it is such a lovely thing

What does your feeling of happiness originate from?
k.       To see my scholarship application reviewed and accepted then…horaayyyy…Europe, here I come.

What does your feeling of happiness originate from?
l.         When I manage to help the poors and unfortunates, and I saw their smiles……

What does your feeling of happiness originate from?
m.    Licking my OREO..the choco one….not any flavours

What does your feeling of happiness originate from?
n.      Away from the routines and travel anywhere liked

What does your feeling of happiness originate from?
o.      Finding out discount everywhere….loaded by lots of things….hmmmm

What does your feeling of happiness originate from?
p.      Share my ears for the ones in needs

What does your feeling of happiness originate from?
q.      Watching masterchef US without being disturbed…(sorry mom, next time we must have all the tv connected with private cable ones hahahahaha…ngarep)

What does your feeling of happiness originate from?
r.        Eating my chocolate secretly and wont share to any

What does your feeling of happiness originate from?
s.       To see my grandpa for wherever he is

What does your feeling of happiness originate from ?
t.        Being an evil in someone’s birthday

What does your feeling of happiness originate from?
u.      Being with someone I love and care

What does your feeling of happiness originate from?
v.       Being needed by people

What does your feeling of happiness originate from?
w.     Spiritually determined and achieved

What does your feeling of happiness originate from?
x.       Release my cry out and feeling relief after

What does your feeling of happiness originate from?
y.       Being with The Almighty side by side

What does your feeling of happiness originate from?
z.       To see all of you happy when I go later



Thursday, April 06, 2006

Miss Becoming......Status yang perlu dipertahankan atau...?

"Jadi..status gue masih Becoming?"
"Makanya perjelas sama calon mas mu...biar ngga mumet kepikirannya"

Dua petikan kalimat di atas membersitkan kebingungan teman saya, Venita. Di kalimat pertamanya yang jelas terucap dalam nada lirih dan bingung. Jawaban dari sohib kentalnya, Sandra, nampak belum bisa meredakan situasi Venita,yang dari raut wajah ingin menampakkan tidak ada apa apa, namun dalam hati wah...tsunami juga kalah tuh.

Bandung, suasana weekend panjang sejak Kamis atas nama Hari raya Nyepi (selamat bagi yang merayakannya), berubah cuaca juga ketika pembicaraan ini masuk ke permukaan. Langsung hujan lebat ala sinetron. Kami bertiga sedang menikmati panasnya roti bakar saus keju dan isi kornet plus kopi di permukaan atas Ciumbuleuit. Tadinya sih kami ingin bersantai berjalan jalan, tapi hal itu lenyap mengetahui betapa panjangnya macet di Cihampelas, dan akhirnya kami mengurungkan niat pertama untuk berjalan jalan ke kota. Memang kami sedang berceloteh tentang masalah pekerjaan, cinta sehingga keluarlah dua kalimat yang menjadi preambule cerita ini.

Becoming. Hm..another story of 'teman tapi mesra ini' telah membawa Venita ke tingkat ragu ragu yang tinggi. Venita, yang insya allah minggu depan mulai bekerja sebagai legal officer di suatu bank swasta di bandung dan juga berprofesi sebagai bagian tim dari event organizer di salah satu radio di bandung, mengemukakan perkenalannya dengan seorang partner kerjanya, seorang DJ yang memang kerap merasa nyaman bila berada didekatnya. Kedekatannya ini pun telah membawa mereka mengangkat topik topik pembicaraan kelas wahid para pasangan yang telah berpacaran dalam jangka waktu yang cukup lama dan jauh lebih serius untuk berkomitmen. Teman saya ini yang pernah diselingkuhi oleh pacar pertamanya memang tidak ragu untuk berkomitmen dengan sang DJ, dimana memang pada suatu waktu mereka pernah berkomunikasi mengenai masalah masa depan, hidup dalam pernikahan, bahkan hingga jumlah anak, siapa yang mengurus, dan bagaimana jika salah satu dari mereka ingin melanjutkan sekolah lagi.

Ini bukan pembicaraan yang main main kan kalau bukan mengarah kepada satu komitmen yang serius...
(atau ada pendapat lain..??)

Tapi..waktu terus berlalu, sang DJ belum pula menampakkan tanda tanda pernyataan keseriusan dalam berkomitmen dengan teman saya ini. Kedekatan mereka pun sering disalahartikan, kedekatan mereka pun sudah nampak lebih jauh dari sekedar teman tapi mesra, namun sang kata yang bertajuk 'komitmen' nampak masih jauh dari wacana. Sehingga muncullah istilah baru dalam pertemanan kami...Venita as Miss Becoming.

"Becoming" apa untuk dia...?pertanyaan ini akhirnya muncul di tengah hujan lebat dan asap yang mengepul dari dalam roti bakar. Sebelum kami berdua angkat bicara, dia angkat bicara dulu " Becoming his girlfriend, becoming his partner only, becoming his friend only, becoming his partner in crime (nah ini yang membuat kami berdua makin khawatir..)selanjutnya dia masih bilang " Becoming his pet..(yang ini membuat kami menahan tawa)..jadi Becoming apa dong , Fun and Sandra?"

Ada satu arah yang saya tangkap dari pembicaraan ini. Secara jelas teman saya yang lagi kalang kabut bingung ini ingin memperjelas status hubungannya dengan sang DJ. Ketika suatu waktu dia pernah menanyakan hal ini, yang ditanya cuma menjawab..."gue ngga enak dengan mantan kamu, karena dia teman gue...itu saja..tapi kalau kamu perlu apa apa dengan gue, gue siap bantuin kamu all time, well prepared". Selagi mendengarkan ceritanya, pikiran saya akhirnya menemukan definisi Becoming versi saya tentunya yaitu ..
" Becoming has totally lots of meaning and unmeaningful versions which somehow get you into thousands of multiinterpretations. It conditionizes a relation which goes closer each other yet there is no any certainty to where it will go leading to. it is sometimes tantalizing for both parties, yet in this case women are more in a worse position due to their men's unwillingness to start a serious commitment. if you have no willingness to start seriuosly and you seem to show your intention of Becoming, then it is what people start to catch meaningfully from you, but if you act contradictively, then go ahead tell him what your feeling is supposed to be for the future"

Intinya adalah Becoming disini tidak jauh dan tidak lain artinya sama dengan teman tapi mesra versi multiinterpretasi yang jauh lebih luas dan memposisikan teman saya khususnya dalam posisi yang membingungkan. Jika memang ingin diposisikan seperti layaknya Becoming alias teman tapi mesra, jadilah demikian dan terimalah konsekuensi logisnya, namun jika ingin diperlakukan sebaliknya..dalam arti ingin lebih mendapatkan kejelasan status, tidak ada salahnya bertanya dan membicarakannya dengan jujur. Apapun status Becoming di sini, setelah mungkin nanti dibicarakan dari hati ke hati dengan lapang dada, pada akhirnya membuat semua orang mengetahui posisi relasi masing masing dan dapat berlaku sewajarnya sesuai dengan peran yang diinginkan dari relasi tersebut di masa sekarang dan masa depan.

Penakaran tingkat kenyamanan dalam suatu relasi inilah yang mungkin menjadi pertimbangan maju mundurnya suatu hubungan antar manusia. Mau maju lebih jauh karena ingin mengikuti hati nurani terkadang harus melihat situasi kondisi yang berkembang dalam relasi itu sendiri. Memang tidak dapat dipungkiri bahwa mood juga bermain dalam hal relasi seperti ini, dan bertambahnya umur juga dapat menjadi faktor yang ikut berperan dalam menentukan status hubungan, walaupun dalam kenyataannya terkadang tidak akan seperti demikian. Faktor sosial dan kultur juga ikut menyumbang untuk hal ini. Perempuan kebanyakan menjadi pihak yang terkadang dirugikan dalam perihal Miss Becoming ini, untuk menanyakan perasaannya dan menyatakan perasaannya secara jujur pun pasti akan mendapat komentar yang tidak sedap dari sana sini. Terlalu GR lah, terlalu agresif lah..(karena biasanya laki lakilah yang menyatakan perasaannya terlebih dulu). Dalam perkembangan masa sekarang, secara gender pun perempuan berhak mengemukakan perasaannya tanpa melihat siapa yang harus jalan terlebih dahulu, kan Tuhan menciptakan manusia laki dan perempuan dengan perasaan, jadi wajar saja kok kalau perempuan pun berani bereaksi dengan perasaannya terhadap teman atau calon pasangannya.

Becoming whatever you want negotiably without hurting each other. Menjadi apapun yang kamu inginkan untuk pasangan kamu atau teman kamu tanpa menyakiti siapapun. Itulah makna yang ingin digali dari setiap relasi dengan siapapun yang kita temui. Memiliki harapan akan menjadi apapun yang diperkirakan akan terjadi antara hubungan yang sedang dijalani merupakan suatu hal yang wajar juga, karena dengan demikian kita berani menakar dengan mempertimbangkan kenyataan yang berjalan di depan kita sejalan dengan berjalannya waktu.

Jadi untuk Venita, bertanyalah dengan jujur terhadap diri sendiri dan sang DJ..mau dibawa kemanakah relasi yang sedang dijalani ini. Itu hal wajar kok, sehingga predikat "Miss Becoming" ini tidak berubah menjadi "Miss Becoming for what he only wants". Selalu ada negoisasi kompromis antara kalian berdua dan siapapun yang berteman atau hendak mengarah ke arah yang lebih pasti dalam tingkat keseriusan berkomitmen yang lebih jauh sehingga kita semua dapat berelasi dengan siapapun tanpa perasaan berat dan sakit hati karena semua posisi sudah jelas dilakoni dan sudah mengetahui konsekuensinya baik positif dan negatif di masa yang akan datang.

(Terima kasih untuk Septy dan Mia untuk inspirasi ceritanya. Kita tidak akan pernah lupa berhujan hujan di ciumbuleuit Bandung hanya untuk sepiring roti bakar dan kopi panas)

Monday, February 20, 2006

Fun and Inspiring

Fun and Inspiring

Ketika saya sakit.....

Sebelum mulai..
Intermesso: lagu Hung up dan Erotica dari Madonna menemani gwe untuk nulis...

Nelangsa banget liat kekurusan gw...turun 5 kilo dari 65..kurus, slim tapi lemes...bagi para dieters..jangan mau slim mesti tipus dulu..tidak direkomendasikan oleh para dokter manapun..

Oom Eddy, sang dokter keluarga, bilang..kamu bisa keluar hari rabu ntar.....horray...tapi inget..masi jg makanan dan jg terlalu cape....


Terima kasih mami...tapi sayang gak bisa sering sering ke rumah sakit...

Terima kasih Myrna, Sandra, Santi, Verza, dan Stephen...temen temen kantor akan kedatangannya..tapi tolong...Myrna, Sandra dan santi...jangan coba coba pindahkan chanel tipi ke inpotaintment ya..mending tom jerry...tapi jadi mayang sari lagi hamil.. Verza, Stephen..gwe ngerti kalian cakep and lebih tua..tapi..kalau di rumah sakit...kalian mesti lebih behave lagi ya ama makanan hantaran yang gak kemakan ama gwe...gara gara kalian juga gwe dimarahin ama dokter karena dia menyangka gw yang mengabiskan 3 jeruk...sedih banget..udah sakit difitnah lagi...

terima ksih Bob "sang babeh" Evans yang berbaik hati meminjamkan laptop kantor selama gw dirawat...tapi ntar ntar nengok...tolong jangan bawa sedikitpun paper paper yang mesti gw kerjaain...itu si namanya slow suicide...

Terima kasih mirna..klab nulis...gosipnya wahid!, sari dari klab origami...tks burung burungannya...jangan sekali kali paksa gwe mengikuti instruksi nya kamu bikin lipat lipat kertas di kamar ini...lipat tuh seprai dan selimut...kali aja bisa jadi origami

Terima kasih buat alvin, selvi, gunawan, (UNiversitas katolik parahyangan), temen temen PSM UNPAR...kalian bikin gwe ngiri karena mau terbang ke wina utk olimpiade koor...duh...
Selvi...maap, buah and kuenya gak kemakan...karena rasa asam dari stawberry jam..duh padahal gwe suka bgt...kalian juga si salah info....gwe kan bukan DBD...kejam banget tuh info

Terima kasih juga Meta, Vina, Anung, Veritza, Nunung...temen temen kuliah seperjuangan di Antropologi UNPAD skg...tapi info yang kalian berikan pada gw membuat gw berpikir ulang lagi utk keluar dari rs..pasalnya kalian bilang kalo mgg dpn..ujian lisan buat gw ada 3 untuk mengganti yg gwe sakit ini...kejam..itu si sama aja dengan keluar dari sangkar harimau masuk ke lubang buaya...(harimau pake sangkar ya)

Mbak Syafira Hardani (UNIFEM), Echi, Wienny 'sapi'rahmawati, Aty temen temen dari sahabatperempuan....terima kasih telah menengok bapak moderator yang tengah sakit ini...cuma Winny..singkirkan atribut persapian mu dari mata gwe...bisa bisa tipes gwe berubah jadi antrax....kejam..setelah gwe sembuh...gwe siap berkampanye lagi untuk kesadaran gender dan pengembangan issue perempuan!

Sepupu sepupu gwe..antony, liani, venni..terima kasih kedatangannya yang menggembirakan namun juga bikin nelangsa gara gara kalian makan makan sekenanya..terima ksih juga koleksi teenlitnya..membuat gwe semakin muda..

Finally....tidak terasa..gwe pun sembuh dengan cerah ceria gambreng
fanfan

Sunday, November 13, 2005

a sexuality matter goes on....

Hey, is he…? Is she….? Or even…we are?



Liburan! Huhuy deh...jauh-jauh hari sebelum hari ‘bebas merdeka’ tiba kami memang telah sibuk merencanakan ‘pengungsian’ dengan berbagai plan A hingga Z, jadi kalau yang satu gagal kami dengan senang hati pindah ke rencana yang lain dan sebagainya. Kami memang tidak mempunyai waktu khusus untuk membicarakan rencana ini, tapi setidaknya dalam setiap pekerjaan yang kami lakukan selalu ada kesempatan dalam kesempitan untuk melakukannya. Fasilitas e-mail (saling kirim e-mail antar meja komputer dalam satu ruangan...untuk menghindari tatapan mata mencurigakan ‘the three killers alias para atasan) memudahkan kami untuk bergerilya merencanakan sesuatu selengkap-lengkapnya. Pura-pura mengetik surat untuk klien padahal...hi hi hi. Sudah pasti kami tidak berkonsentrasi berkerja 100%, namun kami melakukannya pada sore hari. Alhasil dengan curi-curi seperti ini membuat satu rencana tidak pernah tuntas dalam waktu yang sesingkat-singkatnya dan dalam e-mail selalu tertulis....’to be continued’. Dan ‘to be continued’ nya versi kami ini bisa berlanjut lewat sms, telepon rumah bermenit-menit. Fahri, Mila dan saya, yang kebetulan kuliah malam di kampus yang sama namun fakultas berbeda, sering rendezvous malam-malam sambil menunggu di pohon gelap(ih..) atau di kantin melanjutkan topik rencana liburan. Paling untung kalau ada pembatalan kuliah...langsung pulang dan siap dengan ‘halo-halo’ by phone.



Setelah merembukkan masalah, merumuskannya, dan mendapatkan keputusannya, akhirnya kami sepakat untuk menyewa villa di kawasan lembang. Alih-alih ketika hari Rabu tiba, Pak Dadang dan Sandra yang kebetulan mendapatkan tugas outreaching ke salah satu desa di Subang, Jawa Barat masih berusaha mampir ke vila-vila yang sudah diset daftarnya oleh saya dan Mila. Nina, seperti biasanya, mengurus soal-soal perbekalan (maklum, semakin dingin cuaca, semakin banyak ransum yang diperlukan untuk menghangatkan diri...padahal memang sudah karung beras dari lahirnya..). Kamis paginya Sandra dengan bersemangat menceritakan telah menemukan villa di pinggir jalan lembang (dalam gambarannya saya memperkirakan bahwa yang dimaksudnya adalah bungalow besar..) plus harga yang huy,...untungnya tidak terlalu mahal dan masih cukup untuk uang saku di dompet dan makan (ampun..). Masalah terbesar adalah bagaimana apabila tiba-tiba ada pekerjaan mendadak yang harus dilakukan pada hari Sabtu..maklum, kalau ada hal-hal yang demikian terjadi, daripada gaji melayang dan reputasi jadi buruk terpaksa deh liburan hanya tinggal rumusan perencanaan (masih bisa dirasakan sensasinya ketika curi-curi waktu kerja). Nah, urusan demikian adalah tanggung jawab Nina dan saya yang berusaha segiat-giatnya untuk mengosongkan pekerjaan pada hari Sabtu (yang memang biasanya libur), memeriksa ulang agenda, terutama dengan klien-klien yang ‘sangat suka’ berurusan pada hari sabtu sehingga memasukkan agenda mereka ke hari Jum’at...(walaupun kami harus bekerja hingga agak larut dan selamat tinggal kuliah untuk Fahri, Mila dan saya...). Ketiga ‘atasan ‘(bos, assistant, dan sekertaris) pernah saling bertanya mengapa kami begitu ‘heboh’ meluangkan waktu sedemikian rupa, yah jawabannya hanya untuk mengefektifkan waktu saja ...bisa ditebak jawaban yang sangat ‘klise tidak perpendidikan’ ini tetap tidak bisa memuaskan pertanyaan yang dimaksud, namun otak kami telah terlanjur terisi tentang ‘villa, makanan, liburan, hang out’.....



Setiap usaha memerlukan waktu, tenaga, dan pengorbanan..(jika perlu koleksi ‘white lies’nya versi kami siap menghiasi jawaban dari setiap pertanyaan) dan biasanya pengorbanan berakhir dengan dua hal, keberuntungan dan kesialan. Hari ini kami menemukan keberuntungan...Hari sabtu yang indah, kami berangkat dari kantor tepat jam 9 pagi, berbelanja terlebih dahulu di salah satu supermarket di jalan setiabudhi, apalagi kalau bukan makanan dan camilan yang memiliki porsi terbanyak dalam kantung belanja. Siap-siap urunan uang kas untuk membayar uang villa (kali ini saya yang pegang) dan tepat jam 12 siang kami memasuki villa dengan keadaan ‘lusuh’ alias kecapekan gara-gara macet menuju ke arah sana. Ronde berikutnya adalah mandi, taruh-taruh barang, dan siap-siap ‘ngejreng’ jalan-jalan sekalian makan siang. Cuaca nampak kurang kompak dengan keinginan kami...hujan rintik-rintik mulai turun dan angin besar mulai berhembus..wah ngga sehat nih, kami akhirnya memutuskan pulang dengan tentengan makan siang dan beberapa kantung susu murni berbagai rasa dan yogurt..(.Sandra dan Nina berkeras ingin mampir ke tempat Susu murni yang terkenal itu walaupun dalam rencana kami bagusnya sih hari minggu sekalian makan siang dan ngemil..)



Setelah ngobrol sana sini, ada sms yang masuk dan kami tertawa tertahan mengetahui bahwa ternyata ada klien yang terpaksa ditangani oleh sekretaris kantor..(kami pun telah menitipkan pesan pada softboard bahwa kami sedang ada acara keluarga ke luar kota, pokoknya dont disturb deh...sambil terpikir wah kalau kami di’amuk’ sang sekretaris, but anyway...enjoy holiday dong..), terus putar-putar area sekitar villa, ber-say hi sama tetangga kiri-kanan, akhirnya kami menemukan satu pojokan dengan kursi kayu dan pemandangan ke arah gunung dan ke bawah kota. Wah tempat bagus nih buat ngobrol habis-habisan..Baru saja hendak menapakkan kaki ke arah sana, pak dadang berteraik hujan..hmmm batal deh bersantai-santai. Akhirnya saya mengusulkan untuk kesana malam hari saja setelah makan malam. Ngobrol sambil nyamil sambil melihat Bandung dari atas bukit..nikmatnya .Nina, bahkan dalam doa sembahyangnya (dan kebetulan terdengar bisikannya oleh saya..Amien) mengharapkan cuaca yang kompak pada malam hari alias no hujan dan dalam hati saya mengamini doanya kepada Sang Pencipta.



Makan malam tiba. Makan di pinggir jalan pun menjadi pilihan sandra dan nina...dan Fahri menunjuk ke arah penjual ketan bakar sedangkan saya dan Mila ‘ribut’ apakah perlu beli jagung bakar segala rasa atau tidak karena takut tidak termakan. Pada akhirnya...he he beli juga. Setibanya di tempat peristirahatan fahri menggelar tikar plastiknya dan kami duduk duduk di dekat tempat yang tadi sore sudah direncanakan. Doanya Nina manjur. Selama kami di sana melepaskan kepenatan, makan dan ngobrol-ngobrol tidak ada tanda-tanda hujan sedikitpun. Akhirnya. Sedangkan Sandra sibuk dengan bantal kecilnya, Mila akhirnya sibuk pula dengan jagung bakarnya (yang tadi ngotot tidak mau dibelinya). Sampai pada akhirnya dari mulut Nina terlontar kata-kata yang membuat saya (dan teman-teman lainnya menghentikan kunyahannya sementara)..”pacar saya biseksual”



Sandra, Mila, Fahri, dan Pak Dadang saling berpandangan.

Dan saya pun terperangah memandang Nina.

Nina pun memandang kami kosong dan masih mengunyah jagung bakarnya.

Tidak tahu apa yang akan kami katakan dan juga nina

Dia melemparkan pandangannya jauh ke bawah kota bandung yang berkerlap-kerlip di malam hari dari tempat kami duduk dan makan sekarang.

Tampak sesuatu telah lepas bebas dari beban nina.

Namun masih tertinggal ‘sesuatu’ yang masih ingin dilepaskan oleh kawan kami tersebut.

Dalam kerlap-kerlip lampu kota bandung, saya masih dapat melihat nina meneteskan airmatanya, namun berusaha keras menahan suaranya agar tidak keluar. Detik kemudian Mila merengkuh bahunya dan terdengar suara tangisan nina.

Saya menjadi tidak karuan.

Begitu pula dengan yang lainnya.

(to be continued)

Monday, October 17, 2005

Apa Yang Harus Saya Perbuat?

HariSelasa siang ini terasa panas menyengat, dan hampir semua orang di kantor mengalami krisis berbicara. Pak Danang yang biasanya ramai menjadi duduk terpekur di depan komputernya, ngga tahu apa dia memang berkonsentrasi untuk pekerjaan atau mengotak ngatik permainan puzzle (ada dendam kesumat antara dia dan Rina karena yang namanya tersebut diakhir ini memenangkan point tertinggi permainan puzzle di komputer). Sandra yang juga biasanya mampir mampir kemeja tetangga sebelah nampak sibuk membuka buka arsip,tapi curiganya dari cara dia membuka arsip nampak sekali kegelisahan diri yang hanya dapat dilihat oleh indra kedelapannya saya. Fahri sang bapak IT idem ditto. Melihat kaca mata dan kerut di dahinya menandakan dia tidak bisa diganggu sementara waktu (tapi kok keringatan juga yah padahal ruangan sudah dipasang AC dengan tingkat dingin ketujuh..emang ada ya..?). Yang sedikit bisa diajak kompromi dalam situasi begini biasanya Nina, sang finance administrator, ini orang biasanya juga tidak begitu rewel dan agak bisa kompromis layaknya saya dalam menghadapi situasi seperti ini. Kenyataannya? wah jauh lebih parah dari yang saya bayangkan. ketika saya tanya mengenai rencana sore hari yang memang sudah saya rencanakan bersama teman teman untuk makan malam di jalan cibadak, dia cuma menyahut..cancel aja deh lagi ngga mood.kayaknya yang lainnya juga sama..Busyet yang biasanya rakus setengah jidat kalau bertemu dengan makanan sekarang menjadi alim.Apa boleh buat, nampaknya semua orang sedang sibuk terpekur dengan urusannya masing masing. Kalau sudahbegini apa daya semua yang telah direncanakan pun bisa bubar jalan.Rutinitas kerja mungkin bisa menjadi dalang kecurigaan saya mengapa pada suatu waktu kami bisa saling 'stuck'dan bad mood seharian. Memang kami sadari kalau tidak setiap hari kami tidak hanya bisa menikmati pekerjaan bersama sama. tidak semua hari dapat dilalui dengan tertawa tawa walaupun suasana kerja memang menyenangkan . Ada saatnya kami ternyata perlu menyendiri dalam relunghati dan benak pikiran tanpa perlu menilai adanya kecurigaan dengan sesama. Dalam kata lain tidak perlu menduga duga hal yang buruk dan berprasangka yang tidak tidak.

Saturday, October 15, 2005

Another Dilema

Bu, saya kan masih muda, masih pengen kejar karir dulu, nikah kan bisa ntar ntar" "Masya ampun Nin, umur sudah 29 tahun, apa lagi sih?apa yang kurang dari mas Dodi mu itu?" "ya , masih rada kurang sreg aja sih kalau untuk nikah" "ampun..."Itulah ringkasan awal cerita Nina, teman kerja sehati dan sepenanggungan di kantor, bahasa kerennya teman sependeritaan di kantor maupun di luar. Ringkasan tadi terpaksa saya edit dalam dalam karena edisi sebenarnya -yang diceritakan lebih heboh lengkap dengan bumbu-bumbu cerita ala Nina. Kafe tempat kami makan malam ini nampaknya harus rela memberikan tempat duduknya agak lama bagi kami karena nampaknya ini merupakan terusan cerita berseri ala film film di tv."Ibu saya tuh Fan, waduh entah kemasukan gosip daritetangga kali ya..habisnya ngga ngerti juga, kemarin kemarin tenang, tapi tiba tiba saja kemarin malam -lengkap dengan si Papi dan si Abang (kakaknya) tibatiba saja saya di ceramahi tentang indahnya menikah,pentingnya menikah dan menanyakan kelanjutan saya dengan mas Dodi.Padahal tahu sendiri kan kalau sayajuga ngga terlalu sreg dengan dia. Maklum kan temannya papi" . Wih, mulai juga deh masalah klasik..perjodohan antar keluarga juga nih ujung ujungnya. Dan nampaknya sepiring nasi goreng yang telah mengepul ngepul didepan mata nampaknya harus sabar menunggu giliran disantap."Padahal saya juga lagi ehm..naksir juga ama Pak Roy,klien kamu dari Organisasi perlindungan anak itu Fan, "Nah ini dia akhirnya terbuka sudah tabir yang menutupi susahnya anak ini menikah.Ternyata dia sudah menyimpan cinta dengan yang lain. Well, cerita pun semakin melebar karena di balik semua teman saya ini ternyata mencintai pria yang dipilihnya sendiri. Memang tidak yang semudah dibicarakan kalau kita berusaha untuk menerima semua apa adanya. Kalau saya boleh berpendapat, nampaknya Nina sendiri masih akan terus melajang kalau tidak mendapatkan pria idamannya sendiri. Dan juga tidak mudah melajang di lingkungan di mana orang orang menganggap bahwa menikah itu adalah suatu keharusan bagi perempuan yang terutama telah masuk masa masa usia sekitar 25-30 tahun. Bagi mereka jika perempuan masih belum menikah pada umur umur sekian (atau lebih) akan dianggap tidak laku atau perawan tua. Apakah kami boleh berpendapat bahwa sebenarnya hidup melajang atau menikah dalam umur yang kami tentukan setelah semuanya cocok menurut pilihan kami adalah suatu hal yang wajar?Tidak bisa dipungkiri kalau menikah dalam usia yang sangat matang bagi perempuan dalam masa kini pun masih merupakan hal yang dilematis. Mungkin keluarga yang bersangkutan bisa cuek atau tidak akan memaksakan kehendaknya terhadap sang anak perempuannya tapi kalau masyarakat banyak yang menanggapi hal tersebut?wah rasa rasanya tanggapan masyarakat masih banyak yang negatif mengenai orang orang yang menikah dalam usia matang. "jadi salah siapa dong Fan?" tanya Nina sambil menyantap nasi gorengnya, takut keburu dingin kali."Nin, semua orang berhak menentukan jalan hidupnya masing masing, tentu saja dengan mengetahui konsekuensi logis yang akan kamu terima kalau kamu mengambil pilihan yang kamu tentukan. Tentunya dengan tidak mengurangi rasa hormat terhadap orang tua yang selalu dan sampai kapanpun tetap berusaha concern dengan setiap pilihan yang diambil oleh setiapanaknya" saya berbicara demikian agar berusaha netral,bukannya saya tidak mau berpendirian, karena ini masalah dalam negerinya Nina bersama keluarganya. "tumben, bijaksana..biasanya ngakak gila gilaan", Nina menimpali. Masya ampun sudah cape cape mengeluarkan pendapat masih ditimpali kalimat yang demikian pula.dasar. Tapi memang hal ini merupakan suatu kajian dalam pikiran saya karena umur juga saya kerap mendapat kajian khusus malam hari bersama orang tua atau ketika menghadiri pesta pernikahan seseorang.Biasanya teman teman yang sangat care dengankelajangan saya mengungkapkan pertanyaan lirih...'kapan dong Fan..yang lain pada sudah' makanya kadang kadang jadi ill feel kalau mau pergi ke pesta pernikahan tapi tidak bisa dihindari pula.'Belum..atau tidak untuk saat ini..' itu sudah menjadijawaban diplomatis yang sangat standar untuk menghindari hal hal yang tidak diperlukan sekaligus menutup pembicaraan. Bukannya mau sok kebarat-baratan dengan menunda usia untuk menikah.tapi kembali ini masalah pilihan. ini yang saya suka sebut Responsible choice. Artinya kami bertanggung jawab dengan pilihan yang kami buat tanpa berusaha merugikan orang lain,rasa rasanya kehidupan kami yang lajang tidak akan mengganggu orang lain, kecuali kalau sudah merebut istri atau suami orang lain itu lain soal.Kembali ke soal Nina, dasar itu orang..mau tertawa ngga bisa, mau diam ngga komentar pun tidak bisa. Saya sangat mengerti keinginannya untuk mencari yang terbaik. Malah dia pun menambahkan kalau sementara in isaya ditakdirkan melajang, that's fine, selama saya hidup masih dapat melakukan kebaikan bagi diri dan orang lain. Sip..cuma itu yang saya dapat komentaridari pernyataannya dia. Makan malam pun masih terus berlanjut dengan cerita cerita lain seputar kami dan teman teman.