Aha....this is a collection of simple, light, fun but insipring stories taken from all our daily's life. While being stuck on your ownself without anything to share or think about, just browse this blog, who knows it will open your mind and heart..more emphatically. Enjoy! Cheers! Fanny Syariful Alam
Saturday, October 15, 2005
Another Dilema
Bu, saya kan masih muda, masih pengen kejar karir dulu, nikah kan bisa ntar ntar" "Masya ampun Nin, umur sudah 29 tahun, apa lagi sih?apa yang kurang dari mas Dodi mu itu?" "ya , masih rada kurang sreg aja sih kalau untuk nikah" "ampun..."Itulah ringkasan awal cerita Nina, teman kerja sehati dan sepenanggungan di kantor, bahasa kerennya teman sependeritaan di kantor maupun di luar. Ringkasan tadi terpaksa saya edit dalam dalam karena edisi sebenarnya -yang diceritakan lebih heboh lengkap dengan bumbu-bumbu cerita ala Nina. Kafe tempat kami makan malam ini nampaknya harus rela memberikan tempat duduknya agak lama bagi kami karena nampaknya ini merupakan terusan cerita berseri ala film film di tv."Ibu saya tuh Fan, waduh entah kemasukan gosip daritetangga kali ya..habisnya ngga ngerti juga, kemarin kemarin tenang, tapi tiba tiba saja kemarin malam -lengkap dengan si Papi dan si Abang (kakaknya) tibatiba saja saya di ceramahi tentang indahnya menikah,pentingnya menikah dan menanyakan kelanjutan saya dengan mas Dodi.Padahal tahu sendiri kan kalau sayajuga ngga terlalu sreg dengan dia. Maklum kan temannya papi" . Wih, mulai juga deh masalah klasik..perjodohan antar keluarga juga nih ujung ujungnya. Dan nampaknya sepiring nasi goreng yang telah mengepul ngepul didepan mata nampaknya harus sabar menunggu giliran disantap."Padahal saya juga lagi ehm..naksir juga ama Pak Roy,klien kamu dari Organisasi perlindungan anak itu Fan, "Nah ini dia akhirnya terbuka sudah tabir yang menutupi susahnya anak ini menikah.Ternyata dia sudah menyimpan cinta dengan yang lain. Well, cerita pun semakin melebar karena di balik semua teman saya ini ternyata mencintai pria yang dipilihnya sendiri. Memang tidak yang semudah dibicarakan kalau kita berusaha untuk menerima semua apa adanya. Kalau saya boleh berpendapat, nampaknya Nina sendiri masih akan terus melajang kalau tidak mendapatkan pria idamannya sendiri. Dan juga tidak mudah melajang di lingkungan di mana orang orang menganggap bahwa menikah itu adalah suatu keharusan bagi perempuan yang terutama telah masuk masa masa usia sekitar 25-30 tahun. Bagi mereka jika perempuan masih belum menikah pada umur umur sekian (atau lebih) akan dianggap tidak laku atau perawan tua. Apakah kami boleh berpendapat bahwa sebenarnya hidup melajang atau menikah dalam umur yang kami tentukan setelah semuanya cocok menurut pilihan kami adalah suatu hal yang wajar?Tidak bisa dipungkiri kalau menikah dalam usia yang sangat matang bagi perempuan dalam masa kini pun masih merupakan hal yang dilematis. Mungkin keluarga yang bersangkutan bisa cuek atau tidak akan memaksakan kehendaknya terhadap sang anak perempuannya tapi kalau masyarakat banyak yang menanggapi hal tersebut?wah rasa rasanya tanggapan masyarakat masih banyak yang negatif mengenai orang orang yang menikah dalam usia matang. "jadi salah siapa dong Fan?" tanya Nina sambil menyantap nasi gorengnya, takut keburu dingin kali."Nin, semua orang berhak menentukan jalan hidupnya masing masing, tentu saja dengan mengetahui konsekuensi logis yang akan kamu terima kalau kamu mengambil pilihan yang kamu tentukan. Tentunya dengan tidak mengurangi rasa hormat terhadap orang tua yang selalu dan sampai kapanpun tetap berusaha concern dengan setiap pilihan yang diambil oleh setiapanaknya" saya berbicara demikian agar berusaha netral,bukannya saya tidak mau berpendirian, karena ini masalah dalam negerinya Nina bersama keluarganya. "tumben, bijaksana..biasanya ngakak gila gilaan", Nina menimpali. Masya ampun sudah cape cape mengeluarkan pendapat masih ditimpali kalimat yang demikian pula.dasar. Tapi memang hal ini merupakan suatu kajian dalam pikiran saya karena umur juga saya kerap mendapat kajian khusus malam hari bersama orang tua atau ketika menghadiri pesta pernikahan seseorang.Biasanya teman teman yang sangat care dengankelajangan saya mengungkapkan pertanyaan lirih...'kapan dong Fan..yang lain pada sudah' makanya kadang kadang jadi ill feel kalau mau pergi ke pesta pernikahan tapi tidak bisa dihindari pula.'Belum..atau tidak untuk saat ini..' itu sudah menjadijawaban diplomatis yang sangat standar untuk menghindari hal hal yang tidak diperlukan sekaligus menutup pembicaraan. Bukannya mau sok kebarat-baratan dengan menunda usia untuk menikah.tapi kembali ini masalah pilihan. ini yang saya suka sebut Responsible choice. Artinya kami bertanggung jawab dengan pilihan yang kami buat tanpa berusaha merugikan orang lain,rasa rasanya kehidupan kami yang lajang tidak akan mengganggu orang lain, kecuali kalau sudah merebut istri atau suami orang lain itu lain soal.Kembali ke soal Nina, dasar itu orang..mau tertawa ngga bisa, mau diam ngga komentar pun tidak bisa. Saya sangat mengerti keinginannya untuk mencari yang terbaik. Malah dia pun menambahkan kalau sementara in isaya ditakdirkan melajang, that's fine, selama saya hidup masih dapat melakukan kebaikan bagi diri dan orang lain. Sip..cuma itu yang saya dapat komentaridari pernyataannya dia. Makan malam pun masih terus berlanjut dengan cerita cerita lain seputar kami dan teman teman.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment