Hey, is he…? Is she….? Or even…we are?
Liburan! Huhuy deh...jauh-jauh hari sebelum hari ‘bebas merdeka’ tiba kami memang telah sibuk merencanakan ‘pengungsian’ dengan berbagai plan A hingga Z, jadi kalau yang satu gagal kami dengan senang hati pindah ke rencana yang lain dan sebagainya. Kami memang tidak mempunyai waktu khusus untuk membicarakan rencana ini, tapi setidaknya dalam setiap pekerjaan yang kami lakukan selalu ada kesempatan dalam kesempitan untuk melakukannya. Fasilitas e-mail (saling kirim e-mail antar meja komputer dalam satu ruangan...untuk menghindari tatapan mata mencurigakan ‘the three killers alias para atasan) memudahkan kami untuk bergerilya merencanakan sesuatu selengkap-lengkapnya. Pura-pura mengetik surat untuk klien padahal...hi hi hi. Sudah pasti kami tidak berkonsentrasi berkerja 100%, namun kami melakukannya pada sore hari. Alhasil dengan curi-curi seperti ini membuat satu rencana tidak pernah tuntas dalam waktu yang sesingkat-singkatnya dan dalam e-mail selalu tertulis....’to be continued’. Dan ‘to be continued’ nya versi kami ini bisa berlanjut lewat sms, telepon rumah bermenit-menit. Fahri, Mila dan saya, yang kebetulan kuliah malam di kampus yang sama namun fakultas berbeda, sering rendezvous malam-malam sambil menunggu di pohon gelap(ih..) atau di kantin melanjutkan topik rencana liburan. Paling untung kalau ada pembatalan kuliah...langsung pulang dan siap dengan ‘halo-halo’ by phone.
Setelah merembukkan masalah, merumuskannya, dan mendapatkan keputusannya, akhirnya kami sepakat untuk menyewa villa di kawasan lembang. Alih-alih ketika hari Rabu tiba, Pak Dadang dan Sandra yang kebetulan mendapatkan tugas outreaching ke salah satu desa di Subang, Jawa Barat masih berusaha mampir ke vila-vila yang sudah diset daftarnya oleh saya dan Mila. Nina, seperti biasanya, mengurus soal-soal perbekalan (maklum, semakin dingin cuaca, semakin banyak ransum yang diperlukan untuk menghangatkan diri...padahal memang sudah karung beras dari lahirnya..). Kamis paginya Sandra dengan bersemangat menceritakan telah menemukan villa di pinggir jalan lembang (dalam gambarannya saya memperkirakan bahwa yang dimaksudnya adalah bungalow besar..) plus harga yang huy,...untungnya tidak terlalu mahal dan masih cukup untuk uang saku di dompet dan makan (ampun..). Masalah terbesar adalah bagaimana apabila tiba-tiba ada pekerjaan mendadak yang harus dilakukan pada hari Sabtu..maklum, kalau ada hal-hal yang demikian terjadi, daripada gaji melayang dan reputasi jadi buruk terpaksa deh liburan hanya tinggal rumusan perencanaan (masih bisa dirasakan sensasinya ketika curi-curi waktu kerja). Nah, urusan demikian adalah tanggung jawab Nina dan saya yang berusaha segiat-giatnya untuk mengosongkan pekerjaan pada hari Sabtu (yang memang biasanya libur), memeriksa ulang agenda, terutama dengan klien-klien yang ‘sangat suka’ berurusan pada hari sabtu sehingga memasukkan agenda mereka ke hari Jum’at...(walaupun kami harus bekerja hingga agak larut dan selamat tinggal kuliah untuk Fahri, Mila dan saya...). Ketiga ‘atasan ‘(bos, assistant, dan sekertaris) pernah saling bertanya mengapa kami begitu ‘heboh’ meluangkan waktu sedemikian rupa, yah jawabannya hanya untuk mengefektifkan waktu saja ...bisa ditebak jawaban yang sangat ‘klise tidak perpendidikan’ ini tetap tidak bisa memuaskan pertanyaan yang dimaksud, namun otak kami telah terlanjur terisi tentang ‘villa, makanan, liburan, hang out’.....
Setiap usaha memerlukan waktu, tenaga, dan pengorbanan..(jika perlu koleksi ‘white lies’nya versi kami siap menghiasi jawaban dari setiap pertanyaan) dan biasanya pengorbanan berakhir dengan dua hal, keberuntungan dan kesialan. Hari ini kami menemukan keberuntungan...Hari sabtu yang indah, kami berangkat dari kantor tepat jam 9 pagi, berbelanja terlebih dahulu di salah satu supermarket di jalan setiabudhi, apalagi kalau bukan makanan dan camilan yang memiliki porsi terbanyak dalam kantung belanja. Siap-siap urunan uang kas untuk membayar uang villa (kali ini saya yang pegang) dan tepat jam 12 siang kami memasuki villa dengan keadaan ‘lusuh’ alias kecapekan gara-gara macet menuju ke arah sana. Ronde berikutnya adalah mandi, taruh-taruh barang, dan siap-siap ‘ngejreng’ jalan-jalan sekalian makan siang. Cuaca nampak kurang kompak dengan keinginan kami...hujan rintik-rintik mulai turun dan angin besar mulai berhembus..wah ngga sehat nih, kami akhirnya memutuskan pulang dengan tentengan makan siang dan beberapa kantung susu murni berbagai rasa dan yogurt..(.Sandra dan Nina berkeras ingin mampir ke tempat Susu murni yang terkenal itu walaupun dalam rencana kami bagusnya sih hari minggu sekalian makan siang dan ngemil..)
Setelah ngobrol sana sini, ada sms yang masuk dan kami tertawa tertahan mengetahui bahwa ternyata ada klien yang terpaksa ditangani oleh sekretaris kantor..(kami pun telah menitipkan pesan pada softboard bahwa kami sedang ada acara keluarga ke luar kota, pokoknya dont disturb deh...sambil terpikir wah kalau kami di’amuk’ sang sekretaris, but anyway...enjoy holiday dong..), terus putar-putar area sekitar villa, ber-say hi sama tetangga kiri-kanan, akhirnya kami menemukan satu pojokan dengan kursi kayu dan pemandangan ke arah gunung dan ke bawah kota. Wah tempat bagus nih buat ngobrol habis-habisan..Baru saja hendak menapakkan kaki ke arah sana, pak dadang berteraik hujan..hmmm batal deh bersantai-santai. Akhirnya saya mengusulkan untuk kesana malam hari saja setelah makan malam. Ngobrol sambil nyamil sambil melihat Bandung dari atas bukit..nikmatnya .Nina, bahkan dalam doa sembahyangnya (dan kebetulan terdengar bisikannya oleh saya..Amien) mengharapkan cuaca yang kompak pada malam hari alias no hujan dan dalam hati saya mengamini doanya kepada Sang Pencipta.
Makan malam tiba. Makan di pinggir jalan pun menjadi pilihan sandra dan nina...dan Fahri menunjuk ke arah penjual ketan bakar sedangkan saya dan Mila ‘ribut’ apakah perlu beli jagung bakar segala rasa atau tidak karena takut tidak termakan. Pada akhirnya...he he beli juga. Setibanya di tempat peristirahatan fahri menggelar tikar plastiknya dan kami duduk duduk di dekat tempat yang tadi sore sudah direncanakan. Doanya Nina manjur. Selama kami di sana melepaskan kepenatan, makan dan ngobrol-ngobrol tidak ada tanda-tanda hujan sedikitpun. Akhirnya. Sedangkan Sandra sibuk dengan bantal kecilnya, Mila akhirnya sibuk pula dengan jagung bakarnya (yang tadi ngotot tidak mau dibelinya). Sampai pada akhirnya dari mulut Nina terlontar kata-kata yang membuat saya (dan teman-teman lainnya menghentikan kunyahannya sementara)..”pacar saya biseksual”
Sandra, Mila, Fahri, dan Pak Dadang saling berpandangan.
Dan saya pun terperangah memandang Nina.
Nina pun memandang kami kosong dan masih mengunyah jagung bakarnya.
Tidak tahu apa yang akan kami katakan dan juga nina
Dia melemparkan pandangannya jauh ke bawah kota bandung yang berkerlap-kerlip di malam hari dari tempat kami duduk dan makan sekarang.
Tampak sesuatu telah lepas bebas dari beban nina.
Namun masih tertinggal ‘sesuatu’ yang masih ingin dilepaskan oleh kawan kami tersebut.
Dalam kerlap-kerlip lampu kota bandung, saya masih dapat melihat nina meneteskan airmatanya, namun berusaha keras menahan suaranya agar tidak keluar. Detik kemudian Mila merengkuh bahunya dan terdengar suara tangisan nina.
Saya menjadi tidak karuan.
Begitu pula dengan yang lainnya.
(to be continued)
Aha....this is a collection of simple, light, fun but insipring stories taken from all our daily's life. While being stuck on your ownself without anything to share or think about, just browse this blog, who knows it will open your mind and heart..more emphatically. Enjoy! Cheers! Fanny Syariful Alam
Sunday, November 13, 2005
Monday, October 17, 2005
Apa Yang Harus Saya Perbuat?
HariSelasa siang ini terasa panas menyengat, dan hampir semua orang di kantor mengalami krisis berbicara. Pak Danang yang biasanya ramai menjadi duduk terpekur di depan komputernya, ngga tahu apa dia memang berkonsentrasi untuk pekerjaan atau mengotak ngatik permainan puzzle (ada dendam kesumat antara dia dan Rina karena yang namanya tersebut diakhir ini memenangkan point tertinggi permainan puzzle di komputer). Sandra yang juga biasanya mampir mampir kemeja tetangga sebelah nampak sibuk membuka buka arsip,tapi curiganya dari cara dia membuka arsip nampak sekali kegelisahan diri yang hanya dapat dilihat oleh indra kedelapannya saya. Fahri sang bapak IT idem ditto. Melihat kaca mata dan kerut di dahinya menandakan dia tidak bisa diganggu sementara waktu (tapi kok keringatan juga yah padahal ruangan sudah dipasang AC dengan tingkat dingin ketujuh..emang ada ya..?). Yang sedikit bisa diajak kompromi dalam situasi begini biasanya Nina, sang finance administrator, ini orang biasanya juga tidak begitu rewel dan agak bisa kompromis layaknya saya dalam menghadapi situasi seperti ini. Kenyataannya? wah jauh lebih parah dari yang saya bayangkan. ketika saya tanya mengenai rencana sore hari yang memang sudah saya rencanakan bersama teman teman untuk makan malam di jalan cibadak, dia cuma menyahut..cancel aja deh lagi ngga mood.kayaknya yang lainnya juga sama..Busyet yang biasanya rakus setengah jidat kalau bertemu dengan makanan sekarang menjadi alim.Apa boleh buat, nampaknya semua orang sedang sibuk terpekur dengan urusannya masing masing. Kalau sudahbegini apa daya semua yang telah direncanakan pun bisa bubar jalan.Rutinitas kerja mungkin bisa menjadi dalang kecurigaan saya mengapa pada suatu waktu kami bisa saling 'stuck'dan bad mood seharian. Memang kami sadari kalau tidak setiap hari kami tidak hanya bisa menikmati pekerjaan bersama sama. tidak semua hari dapat dilalui dengan tertawa tawa walaupun suasana kerja memang menyenangkan . Ada saatnya kami ternyata perlu menyendiri dalam relunghati dan benak pikiran tanpa perlu menilai adanya kecurigaan dengan sesama. Dalam kata lain tidak perlu menduga duga hal yang buruk dan berprasangka yang tidak tidak.
Saturday, October 15, 2005
Another Dilema
Bu, saya kan masih muda, masih pengen kejar karir dulu, nikah kan bisa ntar ntar" "Masya ampun Nin, umur sudah 29 tahun, apa lagi sih?apa yang kurang dari mas Dodi mu itu?" "ya , masih rada kurang sreg aja sih kalau untuk nikah" "ampun..."Itulah ringkasan awal cerita Nina, teman kerja sehati dan sepenanggungan di kantor, bahasa kerennya teman sependeritaan di kantor maupun di luar. Ringkasan tadi terpaksa saya edit dalam dalam karena edisi sebenarnya -yang diceritakan lebih heboh lengkap dengan bumbu-bumbu cerita ala Nina. Kafe tempat kami makan malam ini nampaknya harus rela memberikan tempat duduknya agak lama bagi kami karena nampaknya ini merupakan terusan cerita berseri ala film film di tv."Ibu saya tuh Fan, waduh entah kemasukan gosip daritetangga kali ya..habisnya ngga ngerti juga, kemarin kemarin tenang, tapi tiba tiba saja kemarin malam -lengkap dengan si Papi dan si Abang (kakaknya) tibatiba saja saya di ceramahi tentang indahnya menikah,pentingnya menikah dan menanyakan kelanjutan saya dengan mas Dodi.Padahal tahu sendiri kan kalau sayajuga ngga terlalu sreg dengan dia. Maklum kan temannya papi" . Wih, mulai juga deh masalah klasik..perjodohan antar keluarga juga nih ujung ujungnya. Dan nampaknya sepiring nasi goreng yang telah mengepul ngepul didepan mata nampaknya harus sabar menunggu giliran disantap."Padahal saya juga lagi ehm..naksir juga ama Pak Roy,klien kamu dari Organisasi perlindungan anak itu Fan, "Nah ini dia akhirnya terbuka sudah tabir yang menutupi susahnya anak ini menikah.Ternyata dia sudah menyimpan cinta dengan yang lain. Well, cerita pun semakin melebar karena di balik semua teman saya ini ternyata mencintai pria yang dipilihnya sendiri. Memang tidak yang semudah dibicarakan kalau kita berusaha untuk menerima semua apa adanya. Kalau saya boleh berpendapat, nampaknya Nina sendiri masih akan terus melajang kalau tidak mendapatkan pria idamannya sendiri. Dan juga tidak mudah melajang di lingkungan di mana orang orang menganggap bahwa menikah itu adalah suatu keharusan bagi perempuan yang terutama telah masuk masa masa usia sekitar 25-30 tahun. Bagi mereka jika perempuan masih belum menikah pada umur umur sekian (atau lebih) akan dianggap tidak laku atau perawan tua. Apakah kami boleh berpendapat bahwa sebenarnya hidup melajang atau menikah dalam umur yang kami tentukan setelah semuanya cocok menurut pilihan kami adalah suatu hal yang wajar?Tidak bisa dipungkiri kalau menikah dalam usia yang sangat matang bagi perempuan dalam masa kini pun masih merupakan hal yang dilematis. Mungkin keluarga yang bersangkutan bisa cuek atau tidak akan memaksakan kehendaknya terhadap sang anak perempuannya tapi kalau masyarakat banyak yang menanggapi hal tersebut?wah rasa rasanya tanggapan masyarakat masih banyak yang negatif mengenai orang orang yang menikah dalam usia matang. "jadi salah siapa dong Fan?" tanya Nina sambil menyantap nasi gorengnya, takut keburu dingin kali."Nin, semua orang berhak menentukan jalan hidupnya masing masing, tentu saja dengan mengetahui konsekuensi logis yang akan kamu terima kalau kamu mengambil pilihan yang kamu tentukan. Tentunya dengan tidak mengurangi rasa hormat terhadap orang tua yang selalu dan sampai kapanpun tetap berusaha concern dengan setiap pilihan yang diambil oleh setiapanaknya" saya berbicara demikian agar berusaha netral,bukannya saya tidak mau berpendirian, karena ini masalah dalam negerinya Nina bersama keluarganya. "tumben, bijaksana..biasanya ngakak gila gilaan", Nina menimpali. Masya ampun sudah cape cape mengeluarkan pendapat masih ditimpali kalimat yang demikian pula.dasar. Tapi memang hal ini merupakan suatu kajian dalam pikiran saya karena umur juga saya kerap mendapat kajian khusus malam hari bersama orang tua atau ketika menghadiri pesta pernikahan seseorang.Biasanya teman teman yang sangat care dengankelajangan saya mengungkapkan pertanyaan lirih...'kapan dong Fan..yang lain pada sudah' makanya kadang kadang jadi ill feel kalau mau pergi ke pesta pernikahan tapi tidak bisa dihindari pula.'Belum..atau tidak untuk saat ini..' itu sudah menjadijawaban diplomatis yang sangat standar untuk menghindari hal hal yang tidak diperlukan sekaligus menutup pembicaraan. Bukannya mau sok kebarat-baratan dengan menunda usia untuk menikah.tapi kembali ini masalah pilihan. ini yang saya suka sebut Responsible choice. Artinya kami bertanggung jawab dengan pilihan yang kami buat tanpa berusaha merugikan orang lain,rasa rasanya kehidupan kami yang lajang tidak akan mengganggu orang lain, kecuali kalau sudah merebut istri atau suami orang lain itu lain soal.Kembali ke soal Nina, dasar itu orang..mau tertawa ngga bisa, mau diam ngga komentar pun tidak bisa. Saya sangat mengerti keinginannya untuk mencari yang terbaik. Malah dia pun menambahkan kalau sementara in isaya ditakdirkan melajang, that's fine, selama saya hidup masih dapat melakukan kebaikan bagi diri dan orang lain. Sip..cuma itu yang saya dapat komentaridari pernyataannya dia. Makan malam pun masih terus berlanjut dengan cerita cerita lain seputar kami dan teman teman.
Thursday, October 13, 2005
Friendship, forever or even changeable
…Afternoon tea…..ini dia yang kami tunggu-tunggu. Jam tepat menunjukkan angka 16.30. Saatnya beres-beres pekerjaan, lihat-lihat agenda, cek sini siapa tahu ada yang ketinggalan atau mesti dikerjakan kembali. Sandra sudah bersiap-siap di ruang istirahat kantor yang terletak di bagian belakang, ‘menikmati’ dinginnya hujan, lengkap dengan teh dan biskuit Ritz kesukaannya, Pak Dadang masih berkutat dengan jurnal-jurnalnya, sementara itu saya, Nina, dan Mila masih berargumen, saling ‘tunjuk’ siapa yang akan menemani klien dari salah satu lembaga sosial yang akan melakukan kegiatan ‘outreaching’ atau pendampingan mengenai masalah kesehatan reproduksi disalah satu desa. Fahri, sang operator komputer, sibuk‘menerjemahkan’kepandaian bahasa komputernya menjad iresep teh jahenya yang katanya ampuh buat masuk angin (rasanya sebenarnya ngga ‘efek’, tapi kita senang saja kalau ada yang mau berbaik hati membuatkan sepoci teh jahe, mana suasana udara mendukung pula).Jarang-jarangnya kita bisa ‘rendezvous’ macam begini, kalau The Three Killers (Bos, Assistant, dansekretarisnya) masih di kantor mana bisa‘berleha-leha’ seperti ini. Setelah argumen selesai (dengan ‘korban’ yaitu say adan Pak Dadang yang akan pergi besok) kami menyusul yang lainnya ke taman belakang, lengkap dengan perbekalan masing-masing yang segera menjadi ‘milik bersama’. Nikmatnya.Tidak ada yang spesial sebenarnya dalam Afternoon tea kali ini. Ya apa lagi kalau bukan membicarakan masalah pekerjaan, tenggat waktu jurnal, info networking sana sini, ngomongin orang (masih dalam konteks pekerjaan sih, tapi kalau sudah keluar jalur kemana mana...yah di Aminin saja..), ngomongin acara TV, jadwal sale-sale di mal, dan terkadang berubah jadi forum untuk cur-hat satu sama lain. Jadi lebih up close more personal judulnya (lengkap dengan ‘borok-boroknya’kami)..
.Tidak ada yang salah dengan hal itu.
Sementara Fahri mulai memasang CD Norah Jones, kami semua sudah terlibat dalam ‘ketawa-ketiwi’ versi kantor. Tidak ketinggalan kami juga sudah mulaiterlibat dengan topik-topik biasa namun menjadi luar biasa karena ‘dimunculkan’ kembali. Namun kami agak terdiam ketika Sandra menyodorkan 5 kartu undangan,dan dari tampilannya itu pasti undangan pernikahan.Kejutan di sore hari....mungkin saatnya tepat karena kami sedang bersantai. Tidak lama kemudian pelukan,dan kecup pipi kiri-kanan mulai mendarat. Ucapan selamat terlontar dan...yah..dasar wanita langsung saja mereka bertanya-tanya kapan awal mula semuanya,bagaimana dengan pacar terdahulu yang sering dibawa kekantor (walaupun Sandra tampak luar baik, tapi tampak dalam reputasi selihay ala a professional heart breaker), bagaimana persiapan perkawinan (nampak kami masih terperangah mengingat tidak adanya sinyal-sinyal orang yang akan menikah). Sambil menyeruput tehnya diaberusaha menenangkan kami-kami yang siap siap dengan lusinan pertanyaan (uh, serasa selebriti kurang kasus).Whew,...at last..she has found her shoulder to cry on forever.Tapi terbersit dalam hati saya ....apakah semuanya akan berjalan seperti semula? Agak sedikit ‘flashback’saja deh, saya menganggap kami ini sudah ‘senang,susah, berakit-rakit ke hulu berenang renang nyampe juga tuh sale 80%, nangis, ketawa, dugem,everything is together’. Memang tidak 100% bersama-sama, ya kami juga masih bisa meluangkan waktu untuk diri kami masing-masing. We are just like family. Sakit saling tengok, punya cemilan saling ‘klepto’ alias ngembat diam-diam (??), kalau ada voucher belanja atau makan saling pakai ramai-ramai..kalau saling kritik (bagus bagusnya masih yang positif) ayo saja...paling anti kalau saling ngutangin..(repot kalo nagih2 nya kecuali kalau emergency), nonton rame-rame, paling apes kalau malam minggu ngga ada acara akhirnya janjian kilat,terus sewa VCD/DVD pilihan,paling suka ‘Bette’, Friends’, dan ‘Sex and The City’...lengkap dari season 1 sampai season 7 sampai berulang-ulang apalagi kalau sudah ngobrolin masalah seks yang ‘sensitif’ itu...bisa-bisa ngga tidur semalaman (Belakangan kami lagi suka sama film-film macam Harry Potter dan Lord of the Ring..).Paling senang kalau sudah jalan-jalan terus makan ditempat ‘all you can eat in one price’, karena kami bisa tinggal tanpa rasa malu dan berdosa hingga para waiter keliling-keliling meja kami dan hingga waktu maksimum.(hingga terpikir apakah tempat-tempat yang pernah kami singgahi memberikan‘black-list’ terhadap kami....satu harga makansepuasnya gunakan semaksimum mungkin..hi hi)Itu hanya gambaran keseharian kami, yang memang masih lajang dan walaupun sudah ada yang sempat berpasangan dengan siapa pun, ujung-ujungnya kami berkumpul kembali. Kami benar-benar menikmati setiap detik dan ujung dari setiap kesederhanaan, keberuntungan,kesialan, hingga kesenangan dan ritual kepercayaan kami sendiri. Mencoba bersyukur walaupun pasangan tetap belum kunjung tiba, tapi kami tidak berusaha untuk menutupi kekurangan ini. Dan tetap berusaha menjadi yang terbaik.Apakah pernikahan Sandra akan membuat suatu perubahan?Apakah ini merupakan akhir persahabatan? Secara nyata mungkin tali persahabatan tidak akan putus hanya karena menikah. Kami percaya walau kami pergi kemanapun kami selalu ingat bahwa keluarga dan teman-teman masih menunggu. Sudah pasti akan ada suatu perubahan prinsipil dalam rantai persahabatan kami, melihat teman kami yang akan menapak kehidupan bekeluarga.Saya menyadari bahwa kami semua akan ‘berpisah’ dari kehidupan sehari-hari kami. Saya selalu mengingatbahwa ‘our flash back is beautiful indeed’. Indahnya persahabatan, karena bukan hanya mengingat yang‘senang dan hura-huranya ‘ saja tetapi juga saling mengingatkan tentang perilaku, kesalahan, setiap kesalahpahaman yang terjadi. Bagi saya pribadi (dan kami) setiap bahu sahabat adalah tempat yang bisa menceritakan dan membagi seribu satu senang maupun susah hingga kapan pun. Setiap persahabatan, bagaimanapun jenisnya, memiliki metamarfosa, memiliki makna,memiliki jalan kemana persahabatan itu akan di bawa.Bertambahnya usia kami (duh diingatkan lagi ya..) jugamenyadarkan bahwa apapun yang kami lakukan hingga pada akhirnya satu-satu dari kami membentuk ikatan pernikahan, hal tersebut tidak akan mematahkan persahabatan kami. Konsep pengertian, rasa kasih sayang, dan rasa berterima kasih antar kami sendiri juga yang mengetuk hati bahwa perubahan selalu terjadi dan kami harus siap menghadapinya kapanpun itu terjadi.Hingga pada akhirnya sore ini bisa membuat mata dan hati saya terbuka lebar untuk berusaha menerima adanyasesuatu yang baru dalam persahabatan kami. Afternoontea ala kantor juga masih berlanjut dan kami tidak bisa pulang..(macet dan hujan besar) dan kami masih berlanjut dengan pertanyaan-pertanyaan untuk Sandra.Selamat menempuh hidup baru, dan Bravo Us, ourfriendship will last forever)
…Afternoon tea…..ini dia yang kami tunggu-tunggu. Jam tepat menunjukkan angka 16.30. Saatnya beres-beres pekerjaan, lihat-lihat agenda, cek sini siapa tahu ada yang ketinggalan atau mesti dikerjakan kembali. Sandra sudah bersiap-siap di ruang istirahat kantor yang terletak di bagian belakang, ‘menikmati’ dinginnya hujan, lengkap dengan teh dan biskuit Ritz kesukaannya, Pak Dadang masih berkutat dengan jurnal-jurnalnya, sementara itu saya, Nina, dan Mila masih berargumen, saling ‘tunjuk’ siapa yang akan menemani klien dari salah satu lembaga sosial yang akan melakukan kegiatan ‘outreaching’ atau pendampingan mengenai masalah kesehatan reproduksi disalah satu desa. Fahri, sang operator komputer, sibuk‘menerjemahkan’kepandaian bahasa komputernya menjad iresep teh jahenya yang katanya ampuh buat masuk angin (rasanya sebenarnya ngga ‘efek’, tapi kita senang saja kalau ada yang mau berbaik hati membuatkan sepoci teh jahe, mana suasana udara mendukung pula).Jarang-jarangnya kita bisa ‘rendezvous’ macam begini, kalau The Three Killers (Bos, Assistant, dansekretarisnya) masih di kantor mana bisa‘berleha-leha’ seperti ini. Setelah argumen selesai (dengan ‘korban’ yaitu say adan Pak Dadang yang akan pergi besok) kami menyusul yang lainnya ke taman belakang, lengkap dengan perbekalan masing-masing yang segera menjadi ‘milik bersama’. Nikmatnya.Tidak ada yang spesial sebenarnya dalam Afternoon tea kali ini. Ya apa lagi kalau bukan membicarakan masalah pekerjaan, tenggat waktu jurnal, info networking sana sini, ngomongin orang (masih dalam konteks pekerjaan sih, tapi kalau sudah keluar jalur kemana mana...yah di Aminin saja..), ngomongin acara TV, jadwal sale-sale di mal, dan terkadang berubah jadi forum untuk cur-hat satu sama lain. Jadi lebih up close more personal judulnya (lengkap dengan ‘borok-boroknya’kami)..
.Tidak ada yang salah dengan hal itu.
Sementara Fahri mulai memasang CD Norah Jones, kami semua sudah terlibat dalam ‘ketawa-ketiwi’ versi kantor. Tidak ketinggalan kami juga sudah mulaiterlibat dengan topik-topik biasa namun menjadi luar biasa karena ‘dimunculkan’ kembali. Namun kami agak terdiam ketika Sandra menyodorkan 5 kartu undangan,dan dari tampilannya itu pasti undangan pernikahan.Kejutan di sore hari....mungkin saatnya tepat karena kami sedang bersantai. Tidak lama kemudian pelukan,dan kecup pipi kiri-kanan mulai mendarat. Ucapan selamat terlontar dan...yah..dasar wanita langsung saja mereka bertanya-tanya kapan awal mula semuanya,bagaimana dengan pacar terdahulu yang sering dibawa kekantor (walaupun Sandra tampak luar baik, tapi tampak dalam reputasi selihay ala a professional heart breaker), bagaimana persiapan perkawinan (nampak kami masih terperangah mengingat tidak adanya sinyal-sinyal orang yang akan menikah). Sambil menyeruput tehnya diaberusaha menenangkan kami-kami yang siap siap dengan lusinan pertanyaan (uh, serasa selebriti kurang kasus).Whew,...at last..she has found her shoulder to cry on forever.Tapi terbersit dalam hati saya ....apakah semuanya akan berjalan seperti semula? Agak sedikit ‘flashback’saja deh, saya menganggap kami ini sudah ‘senang,susah, berakit-rakit ke hulu berenang renang nyampe juga tuh sale 80%, nangis, ketawa, dugem,everything is together’. Memang tidak 100% bersama-sama, ya kami juga masih bisa meluangkan waktu untuk diri kami masing-masing. We are just like family. Sakit saling tengok, punya cemilan saling ‘klepto’ alias ngembat diam-diam (??), kalau ada voucher belanja atau makan saling pakai ramai-ramai..kalau saling kritik (bagus bagusnya masih yang positif) ayo saja...paling anti kalau saling ngutangin..(repot kalo nagih2 nya kecuali kalau emergency), nonton rame-rame, paling apes kalau malam minggu ngga ada acara akhirnya janjian kilat,terus sewa VCD/DVD pilihan,paling suka ‘Bette’, Friends’, dan ‘Sex and The City’...lengkap dari season 1 sampai season 7 sampai berulang-ulang apalagi kalau sudah ngobrolin masalah seks yang ‘sensitif’ itu...bisa-bisa ngga tidur semalaman (Belakangan kami lagi suka sama film-film macam Harry Potter dan Lord of the Ring..).Paling senang kalau sudah jalan-jalan terus makan ditempat ‘all you can eat in one price’, karena kami bisa tinggal tanpa rasa malu dan berdosa hingga para waiter keliling-keliling meja kami dan hingga waktu maksimum.(hingga terpikir apakah tempat-tempat yang pernah kami singgahi memberikan‘black-list’ terhadap kami....satu harga makansepuasnya gunakan semaksimum mungkin..hi hi)Itu hanya gambaran keseharian kami, yang memang masih lajang dan walaupun sudah ada yang sempat berpasangan dengan siapa pun, ujung-ujungnya kami berkumpul kembali. Kami benar-benar menikmati setiap detik dan ujung dari setiap kesederhanaan, keberuntungan,kesialan, hingga kesenangan dan ritual kepercayaan kami sendiri. Mencoba bersyukur walaupun pasangan tetap belum kunjung tiba, tapi kami tidak berusaha untuk menutupi kekurangan ini. Dan tetap berusaha menjadi yang terbaik.Apakah pernikahan Sandra akan membuat suatu perubahan?Apakah ini merupakan akhir persahabatan? Secara nyata mungkin tali persahabatan tidak akan putus hanya karena menikah. Kami percaya walau kami pergi kemanapun kami selalu ingat bahwa keluarga dan teman-teman masih menunggu. Sudah pasti akan ada suatu perubahan prinsipil dalam rantai persahabatan kami, melihat teman kami yang akan menapak kehidupan bekeluarga.Saya menyadari bahwa kami semua akan ‘berpisah’ dari kehidupan sehari-hari kami. Saya selalu mengingatbahwa ‘our flash back is beautiful indeed’. Indahnya persahabatan, karena bukan hanya mengingat yang‘senang dan hura-huranya ‘ saja tetapi juga saling mengingatkan tentang perilaku, kesalahan, setiap kesalahpahaman yang terjadi. Bagi saya pribadi (dan kami) setiap bahu sahabat adalah tempat yang bisa menceritakan dan membagi seribu satu senang maupun susah hingga kapan pun. Setiap persahabatan, bagaimanapun jenisnya, memiliki metamarfosa, memiliki makna,memiliki jalan kemana persahabatan itu akan di bawa.Bertambahnya usia kami (duh diingatkan lagi ya..) jugamenyadarkan bahwa apapun yang kami lakukan hingga pada akhirnya satu-satu dari kami membentuk ikatan pernikahan, hal tersebut tidak akan mematahkan persahabatan kami. Konsep pengertian, rasa kasih sayang, dan rasa berterima kasih antar kami sendiri juga yang mengetuk hati bahwa perubahan selalu terjadi dan kami harus siap menghadapinya kapanpun itu terjadi.Hingga pada akhirnya sore ini bisa membuat mata dan hati saya terbuka lebar untuk berusaha menerima adanyasesuatu yang baru dalam persahabatan kami. Afternoontea ala kantor juga masih berlanjut dan kami tidak bisa pulang..(macet dan hujan besar) dan kami masih berlanjut dengan pertanyaan-pertanyaan untuk Sandra.Selamat menempuh hidup baru, dan Bravo Us, ourfriendship will last forever)
Love Profusion, Silly or not ?
Dalam suatu perbincangan di saat makan siang, teman saya, Miranda, seorang aktivis di suatu lembaga sosial (juga klien saya), mendadak merencanakan untuk‘menjauhi’sementara sang pacar, Andi, yang berprofesi sama (dan klien saya juga). Jelas saja pernyataannya ini membuat saya agak terperangah mengingat hampir semua orang melihat mereka berdua adalah salah satu pasangan hot. Malah dulu sang wanita lah yang minta dijodohkan oleh saya. God…is there any row between them? Or any affair?Entengnya, Miranda cuma menjawab” aduh gue capek deh,bangun pagi sudah di-morning call ama dia, tiba kantor sms sudah ‘berpesan’ sudah sampai belum, mau makan siang juga pasti ngga lewat ditanyain, kalau ada tugas ke luar kota ‘petuahnya’ bisa kayak jarak Jakarta-Jayapura. Malam sebelum tidur..sms bunyi ..and God, isinya pasti dari dia.”Hmm…entah sindrom apa lagi yang dialami teman saya ini. Belum selesai saya berpikir , dia melanjutkan “ kalau saya dicuekin rasanya gimana ya? malah jadi pengen kucing-kucingan…eh ndableknya dia ngga pernah mengeluh sedikitpun” (kalau anda melihat raut mukanya jangan saya, Anda pun pasti tersenyum dikulum). Pernah suatu saat Andi memergokinya jalan bersama pria lain (dalam kondisi disengaja, malah pakai acara menggenggam tangan erat lagi, duh, saya sudah membayangkan terjadinya‘investigasi’ ala Andi di malam harinya). Olala malah tiada komentar sedikit pun tuh, saya juga malah tidak bisa tidur tenang membayangkan ‘hasil perjodohan’ saya bertengkar seramai yang diprediksikan, eh malah sang pacar tenang-tenang saja. Malah intensitas perhatiannya jauh kian bertambah. Lucunya kalau pada jaman kita-kita masih pada ‘culun’ alias masih cinta-cintaan ala anak SMU (ingatan saya agak sedikitmenerawang sambil senyum-senyum sendiri) nampaknya Miranda akan menjadi gadis terbahagia di sekolah (bukan di dunia) diperhatikan sang ‘cem-ceman’setiapharinya. Pokoknya she felt as if when two world collidged and kalau ada satu saja yang melakukan aksi pertemanan yang lebih jauh dengan temen-teman pria yang lain dan sebaliknya, ngambeknya sang pacarbisa-bisa menyaingi perang antara GAM-TNI (begitu pula sebaliknya...pokoknya ngga mau kalah deh ceritanya). But, kembali lagi ke masa sekarang. Setahu saya manusia selalu mengalami reformasi unik dalam hubungan antara 2 manusia yang saling berbeda satu sama lain. Bertambahnya usia juga ditenggarai memiliki andil besar dalam perubahan perilaku dalam menjalani hubungan yang lebih personal. (mungkin karena menggabung-gabungkan pengalaman berhubungan mulai dari yang berkategori cinta monyet ala anak sekolahan hingga yang bersifat lebih matang). Everything is a process, arent they?. Fenomena kejenuhan memang tampakmenghiasi raut hubungan teman saya yang notabene sedang kebingungan sedangkan sang pria nampak ‘cihuy’tenangnya. Malah Miranda dengan bingungnya menambahkan“ baru pacaran saja perhatiannya sudah melebihi pasangan menikah...apalagi kalau saya menikah dengannya nanti”. Masalah perhatian terhadap sang pasangan memang tidakdapat dipungkiri menjadi sesuatu yang tidak ada ujungpangkalnya dan jangan salah....pasangan secuek apapun dia masih memiliki kadar perhatian yangterkadang tidak dapat terduga. Seorang singletone (seperti saya ini) malah akhirnya geleng-geleng kepala kalau sudah masuk ke topik ini. Perhatian terhadap pasangan terkadang membuat interpretasi yangberbeda-beda antar pasangan. Maklum karena ini bukan masalah ilmu pasti, jadi tidak dapat digambarkansecara pasti apakah orang yang memperhatikan pasangan layaknya Andi terhadap Miranda termasuk kategori orangyang mencintai selamanya atau hanya pada masa-masaindah pacaran setelah menikah langsung menjadi orangyang ‘sangat biasa’. Masalah perhatian juga bisa membuat orang menjadi serba salah juga. (eh digarisbawahi ya bahwa saya tidak bermaksud membuat suatu hal indah menjadi pelik). Kalau sang pasangan memarahi sang pria maupun wanitanya maka atas dasar nama cinta maka hal memarahi tersebut dianggap suatu perhatian.(iya ngga...coba koreksi kalau salah). Kalau sang pasangan melonggarkan suatu perhatiannya hal tersebut masih dikategorikan sebagai masih adanya kepedulian terhadap pasangannya. Parah-parahnya setiappasangan malah menjadi semakin curiga apabila adaperhatian yang berkurang dan juga yang bertambahsecara provokatif. Sementara Miranda terus melontarkan siasat-siasatnya untuk menghindari sang pacar, saya terus berusaha mencerna benang merah yang diharapkan menjadi titik temu suatu permasalahan yang terjadi antara merekaberdua. Kalau pada akhirnya mereka putus...ya lain soal, tapi hasil perjuangan saya menjodohkan merekaberdua kandas (he he masih mempertimbangkan ambisi sendiri), rasanya plong kalau sudah terdengar adanya rencana untuk ke wedding organizer, atau saya melihat sendiri akad pernikahan mereka..Hmmm tapi nampaknya impian saya harus mengalami penundaan tiada batasnya.Bukannya saya mau mencampuri urusan personal temansaya yang satu ini...cuma berpikir apakah tidak ada jalan tengah untuk mengatasi semuanya. Kalau dalam teori percintaan komunikasi adalah hal yang mutlak dalam menjalani suatu hubungan antar pasangan, ya itu yang perlu dilakukan dua teman saya ini. Lucunya sayaberpikir kalau masalah menambah atau mengurangi perhatian juga tergantung dari masing-masingindividunya. Setiap orang memiliki kadar perhatiansecara alami akan bertambah atau malah berkurang tergantung dari sikap dan sifat mereka masing-masing.untuk memaksakan seseorang untuk menambah ataumengurangi perhatian terhadap pasangan, karena mungkin secara alamiah mereka telah ‘terbentuk’ secara demikian. Dalam hati saya bilang kalau Miranda ini mungkin beruntung memiliki Andi, namun kondisi nyata yang dihadapi tidak mengiyakan pendapat saya. Menjaga netralitas perhatian juga merupakan sikap sulit karena setiap orang secara alami dapat mengubah intensitas perhatian tergantung apa yang dihadapinya saat itu. (lama-lama saya juga harus mengalami pacaran serius juga kali ya untuk bisa merasakan hebohnya perhatian sang pacar atau apes-apesnya tidak merasakan apa yang dialami teman saya ha ha) .Menerima kelebihan dan kekurangan (tanpa terus-terusanmenyoroti apa yang kurang) dan berbesar hati nampaknya cara yang paling gres menyiasati masalah ini. Dalam hati juga saya berpikir memang sudah sifatnya Andi yang demikian, dan ups...mana mau juga saya diintimidasi dalam-dalam untuk mengubah trade mark personal saya...itu sih maunya. Tapi kalau soalperubahan, alangkah senangnya juga apabila tidak hanya orang yang dikritik yang melakukan perubahan, tetapi juga orang yang mengkritiknya. Dimana-mana idealnya perubahan diharapkan untuk mendapatkan situasi dan kondisi yang lebih baik, namun kalau memang masih sulit melakukannya, hanya waktu yang bisa menjawab dan kita tidak bisa memaksakannya. Dan berkomunikasi dengan Tuhan...(ampun, dalam ya). Sekiranya saya inginmemahami bahwa apapun yang diciptakan Nya merupakan karunia, baik maupun buruknya...termasuk cinta. Dan makan siang masih berlanjut walaupun lidah dan otak saya nampaknya sulit ‘bekerjasama’ karena cerita sang teman pun masih berlanjut.
Dalam suatu perbincangan di saat makan siang, teman saya, Miranda, seorang aktivis di suatu lembaga sosial (juga klien saya), mendadak merencanakan untuk‘menjauhi’sementara sang pacar, Andi, yang berprofesi sama (dan klien saya juga). Jelas saja pernyataannya ini membuat saya agak terperangah mengingat hampir semua orang melihat mereka berdua adalah salah satu pasangan hot. Malah dulu sang wanita lah yang minta dijodohkan oleh saya. God…is there any row between them? Or any affair?Entengnya, Miranda cuma menjawab” aduh gue capek deh,bangun pagi sudah di-morning call ama dia, tiba kantor sms sudah ‘berpesan’ sudah sampai belum, mau makan siang juga pasti ngga lewat ditanyain, kalau ada tugas ke luar kota ‘petuahnya’ bisa kayak jarak Jakarta-Jayapura. Malam sebelum tidur..sms bunyi ..and God, isinya pasti dari dia.”Hmm…entah sindrom apa lagi yang dialami teman saya ini. Belum selesai saya berpikir , dia melanjutkan “ kalau saya dicuekin rasanya gimana ya? malah jadi pengen kucing-kucingan…eh ndableknya dia ngga pernah mengeluh sedikitpun” (kalau anda melihat raut mukanya jangan saya, Anda pun pasti tersenyum dikulum). Pernah suatu saat Andi memergokinya jalan bersama pria lain (dalam kondisi disengaja, malah pakai acara menggenggam tangan erat lagi, duh, saya sudah membayangkan terjadinya‘investigasi’ ala Andi di malam harinya). Olala malah tiada komentar sedikit pun tuh, saya juga malah tidak bisa tidur tenang membayangkan ‘hasil perjodohan’ saya bertengkar seramai yang diprediksikan, eh malah sang pacar tenang-tenang saja. Malah intensitas perhatiannya jauh kian bertambah. Lucunya kalau pada jaman kita-kita masih pada ‘culun’ alias masih cinta-cintaan ala anak SMU (ingatan saya agak sedikitmenerawang sambil senyum-senyum sendiri) nampaknya Miranda akan menjadi gadis terbahagia di sekolah (bukan di dunia) diperhatikan sang ‘cem-ceman’setiapharinya. Pokoknya she felt as if when two world collidged and kalau ada satu saja yang melakukan aksi pertemanan yang lebih jauh dengan temen-teman pria yang lain dan sebaliknya, ngambeknya sang pacarbisa-bisa menyaingi perang antara GAM-TNI (begitu pula sebaliknya...pokoknya ngga mau kalah deh ceritanya). But, kembali lagi ke masa sekarang. Setahu saya manusia selalu mengalami reformasi unik dalam hubungan antara 2 manusia yang saling berbeda satu sama lain. Bertambahnya usia juga ditenggarai memiliki andil besar dalam perubahan perilaku dalam menjalani hubungan yang lebih personal. (mungkin karena menggabung-gabungkan pengalaman berhubungan mulai dari yang berkategori cinta monyet ala anak sekolahan hingga yang bersifat lebih matang). Everything is a process, arent they?. Fenomena kejenuhan memang tampakmenghiasi raut hubungan teman saya yang notabene sedang kebingungan sedangkan sang pria nampak ‘cihuy’tenangnya. Malah Miranda dengan bingungnya menambahkan“ baru pacaran saja perhatiannya sudah melebihi pasangan menikah...apalagi kalau saya menikah dengannya nanti”. Masalah perhatian terhadap sang pasangan memang tidakdapat dipungkiri menjadi sesuatu yang tidak ada ujungpangkalnya dan jangan salah....pasangan secuek apapun dia masih memiliki kadar perhatian yangterkadang tidak dapat terduga. Seorang singletone (seperti saya ini) malah akhirnya geleng-geleng kepala kalau sudah masuk ke topik ini. Perhatian terhadap pasangan terkadang membuat interpretasi yangberbeda-beda antar pasangan. Maklum karena ini bukan masalah ilmu pasti, jadi tidak dapat digambarkansecara pasti apakah orang yang memperhatikan pasangan layaknya Andi terhadap Miranda termasuk kategori orangyang mencintai selamanya atau hanya pada masa-masaindah pacaran setelah menikah langsung menjadi orangyang ‘sangat biasa’. Masalah perhatian juga bisa membuat orang menjadi serba salah juga. (eh digarisbawahi ya bahwa saya tidak bermaksud membuat suatu hal indah menjadi pelik). Kalau sang pasangan memarahi sang pria maupun wanitanya maka atas dasar nama cinta maka hal memarahi tersebut dianggap suatu perhatian.(iya ngga...coba koreksi kalau salah). Kalau sang pasangan melonggarkan suatu perhatiannya hal tersebut masih dikategorikan sebagai masih adanya kepedulian terhadap pasangannya. Parah-parahnya setiappasangan malah menjadi semakin curiga apabila adaperhatian yang berkurang dan juga yang bertambahsecara provokatif. Sementara Miranda terus melontarkan siasat-siasatnya untuk menghindari sang pacar, saya terus berusaha mencerna benang merah yang diharapkan menjadi titik temu suatu permasalahan yang terjadi antara merekaberdua. Kalau pada akhirnya mereka putus...ya lain soal, tapi hasil perjuangan saya menjodohkan merekaberdua kandas (he he masih mempertimbangkan ambisi sendiri), rasanya plong kalau sudah terdengar adanya rencana untuk ke wedding organizer, atau saya melihat sendiri akad pernikahan mereka..Hmmm tapi nampaknya impian saya harus mengalami penundaan tiada batasnya.Bukannya saya mau mencampuri urusan personal temansaya yang satu ini...cuma berpikir apakah tidak ada jalan tengah untuk mengatasi semuanya. Kalau dalam teori percintaan komunikasi adalah hal yang mutlak dalam menjalani suatu hubungan antar pasangan, ya itu yang perlu dilakukan dua teman saya ini. Lucunya sayaberpikir kalau masalah menambah atau mengurangi perhatian juga tergantung dari masing-masingindividunya. Setiap orang memiliki kadar perhatiansecara alami akan bertambah atau malah berkurang tergantung dari sikap dan sifat mereka masing-masing.untuk memaksakan seseorang untuk menambah ataumengurangi perhatian terhadap pasangan, karena mungkin secara alamiah mereka telah ‘terbentuk’ secara demikian. Dalam hati saya bilang kalau Miranda ini mungkin beruntung memiliki Andi, namun kondisi nyata yang dihadapi tidak mengiyakan pendapat saya. Menjaga netralitas perhatian juga merupakan sikap sulit karena setiap orang secara alami dapat mengubah intensitas perhatian tergantung apa yang dihadapinya saat itu. (lama-lama saya juga harus mengalami pacaran serius juga kali ya untuk bisa merasakan hebohnya perhatian sang pacar atau apes-apesnya tidak merasakan apa yang dialami teman saya ha ha) .Menerima kelebihan dan kekurangan (tanpa terus-terusanmenyoroti apa yang kurang) dan berbesar hati nampaknya cara yang paling gres menyiasati masalah ini. Dalam hati juga saya berpikir memang sudah sifatnya Andi yang demikian, dan ups...mana mau juga saya diintimidasi dalam-dalam untuk mengubah trade mark personal saya...itu sih maunya. Tapi kalau soalperubahan, alangkah senangnya juga apabila tidak hanya orang yang dikritik yang melakukan perubahan, tetapi juga orang yang mengkritiknya. Dimana-mana idealnya perubahan diharapkan untuk mendapatkan situasi dan kondisi yang lebih baik, namun kalau memang masih sulit melakukannya, hanya waktu yang bisa menjawab dan kita tidak bisa memaksakannya. Dan berkomunikasi dengan Tuhan...(ampun, dalam ya). Sekiranya saya inginmemahami bahwa apapun yang diciptakan Nya merupakan karunia, baik maupun buruknya...termasuk cinta. Dan makan siang masih berlanjut walaupun lidah dan otak saya nampaknya sulit ‘bekerjasama’ karena cerita sang teman pun masih berlanjut.
Subscribe to:
Posts (Atom)