Thursday, April 06, 2006

Miss Becoming......Status yang perlu dipertahankan atau...?

"Jadi..status gue masih Becoming?"
"Makanya perjelas sama calon mas mu...biar ngga mumet kepikirannya"

Dua petikan kalimat di atas membersitkan kebingungan teman saya, Venita. Di kalimat pertamanya yang jelas terucap dalam nada lirih dan bingung. Jawaban dari sohib kentalnya, Sandra, nampak belum bisa meredakan situasi Venita,yang dari raut wajah ingin menampakkan tidak ada apa apa, namun dalam hati wah...tsunami juga kalah tuh.

Bandung, suasana weekend panjang sejak Kamis atas nama Hari raya Nyepi (selamat bagi yang merayakannya), berubah cuaca juga ketika pembicaraan ini masuk ke permukaan. Langsung hujan lebat ala sinetron. Kami bertiga sedang menikmati panasnya roti bakar saus keju dan isi kornet plus kopi di permukaan atas Ciumbuleuit. Tadinya sih kami ingin bersantai berjalan jalan, tapi hal itu lenyap mengetahui betapa panjangnya macet di Cihampelas, dan akhirnya kami mengurungkan niat pertama untuk berjalan jalan ke kota. Memang kami sedang berceloteh tentang masalah pekerjaan, cinta sehingga keluarlah dua kalimat yang menjadi preambule cerita ini.

Becoming. Hm..another story of 'teman tapi mesra ini' telah membawa Venita ke tingkat ragu ragu yang tinggi. Venita, yang insya allah minggu depan mulai bekerja sebagai legal officer di suatu bank swasta di bandung dan juga berprofesi sebagai bagian tim dari event organizer di salah satu radio di bandung, mengemukakan perkenalannya dengan seorang partner kerjanya, seorang DJ yang memang kerap merasa nyaman bila berada didekatnya. Kedekatannya ini pun telah membawa mereka mengangkat topik topik pembicaraan kelas wahid para pasangan yang telah berpacaran dalam jangka waktu yang cukup lama dan jauh lebih serius untuk berkomitmen. Teman saya ini yang pernah diselingkuhi oleh pacar pertamanya memang tidak ragu untuk berkomitmen dengan sang DJ, dimana memang pada suatu waktu mereka pernah berkomunikasi mengenai masalah masa depan, hidup dalam pernikahan, bahkan hingga jumlah anak, siapa yang mengurus, dan bagaimana jika salah satu dari mereka ingin melanjutkan sekolah lagi.

Ini bukan pembicaraan yang main main kan kalau bukan mengarah kepada satu komitmen yang serius...
(atau ada pendapat lain..??)

Tapi..waktu terus berlalu, sang DJ belum pula menampakkan tanda tanda pernyataan keseriusan dalam berkomitmen dengan teman saya ini. Kedekatan mereka pun sering disalahartikan, kedekatan mereka pun sudah nampak lebih jauh dari sekedar teman tapi mesra, namun sang kata yang bertajuk 'komitmen' nampak masih jauh dari wacana. Sehingga muncullah istilah baru dalam pertemanan kami...Venita as Miss Becoming.

"Becoming" apa untuk dia...?pertanyaan ini akhirnya muncul di tengah hujan lebat dan asap yang mengepul dari dalam roti bakar. Sebelum kami berdua angkat bicara, dia angkat bicara dulu " Becoming his girlfriend, becoming his partner only, becoming his friend only, becoming his partner in crime (nah ini yang membuat kami berdua makin khawatir..)selanjutnya dia masih bilang " Becoming his pet..(yang ini membuat kami menahan tawa)..jadi Becoming apa dong , Fun and Sandra?"

Ada satu arah yang saya tangkap dari pembicaraan ini. Secara jelas teman saya yang lagi kalang kabut bingung ini ingin memperjelas status hubungannya dengan sang DJ. Ketika suatu waktu dia pernah menanyakan hal ini, yang ditanya cuma menjawab..."gue ngga enak dengan mantan kamu, karena dia teman gue...itu saja..tapi kalau kamu perlu apa apa dengan gue, gue siap bantuin kamu all time, well prepared". Selagi mendengarkan ceritanya, pikiran saya akhirnya menemukan definisi Becoming versi saya tentunya yaitu ..
" Becoming has totally lots of meaning and unmeaningful versions which somehow get you into thousands of multiinterpretations. It conditionizes a relation which goes closer each other yet there is no any certainty to where it will go leading to. it is sometimes tantalizing for both parties, yet in this case women are more in a worse position due to their men's unwillingness to start a serious commitment. if you have no willingness to start seriuosly and you seem to show your intention of Becoming, then it is what people start to catch meaningfully from you, but if you act contradictively, then go ahead tell him what your feeling is supposed to be for the future"

Intinya adalah Becoming disini tidak jauh dan tidak lain artinya sama dengan teman tapi mesra versi multiinterpretasi yang jauh lebih luas dan memposisikan teman saya khususnya dalam posisi yang membingungkan. Jika memang ingin diposisikan seperti layaknya Becoming alias teman tapi mesra, jadilah demikian dan terimalah konsekuensi logisnya, namun jika ingin diperlakukan sebaliknya..dalam arti ingin lebih mendapatkan kejelasan status, tidak ada salahnya bertanya dan membicarakannya dengan jujur. Apapun status Becoming di sini, setelah mungkin nanti dibicarakan dari hati ke hati dengan lapang dada, pada akhirnya membuat semua orang mengetahui posisi relasi masing masing dan dapat berlaku sewajarnya sesuai dengan peran yang diinginkan dari relasi tersebut di masa sekarang dan masa depan.

Penakaran tingkat kenyamanan dalam suatu relasi inilah yang mungkin menjadi pertimbangan maju mundurnya suatu hubungan antar manusia. Mau maju lebih jauh karena ingin mengikuti hati nurani terkadang harus melihat situasi kondisi yang berkembang dalam relasi itu sendiri. Memang tidak dapat dipungkiri bahwa mood juga bermain dalam hal relasi seperti ini, dan bertambahnya umur juga dapat menjadi faktor yang ikut berperan dalam menentukan status hubungan, walaupun dalam kenyataannya terkadang tidak akan seperti demikian. Faktor sosial dan kultur juga ikut menyumbang untuk hal ini. Perempuan kebanyakan menjadi pihak yang terkadang dirugikan dalam perihal Miss Becoming ini, untuk menanyakan perasaannya dan menyatakan perasaannya secara jujur pun pasti akan mendapat komentar yang tidak sedap dari sana sini. Terlalu GR lah, terlalu agresif lah..(karena biasanya laki lakilah yang menyatakan perasaannya terlebih dulu). Dalam perkembangan masa sekarang, secara gender pun perempuan berhak mengemukakan perasaannya tanpa melihat siapa yang harus jalan terlebih dahulu, kan Tuhan menciptakan manusia laki dan perempuan dengan perasaan, jadi wajar saja kok kalau perempuan pun berani bereaksi dengan perasaannya terhadap teman atau calon pasangannya.

Becoming whatever you want negotiably without hurting each other. Menjadi apapun yang kamu inginkan untuk pasangan kamu atau teman kamu tanpa menyakiti siapapun. Itulah makna yang ingin digali dari setiap relasi dengan siapapun yang kita temui. Memiliki harapan akan menjadi apapun yang diperkirakan akan terjadi antara hubungan yang sedang dijalani merupakan suatu hal yang wajar juga, karena dengan demikian kita berani menakar dengan mempertimbangkan kenyataan yang berjalan di depan kita sejalan dengan berjalannya waktu.

Jadi untuk Venita, bertanyalah dengan jujur terhadap diri sendiri dan sang DJ..mau dibawa kemanakah relasi yang sedang dijalani ini. Itu hal wajar kok, sehingga predikat "Miss Becoming" ini tidak berubah menjadi "Miss Becoming for what he only wants". Selalu ada negoisasi kompromis antara kalian berdua dan siapapun yang berteman atau hendak mengarah ke arah yang lebih pasti dalam tingkat keseriusan berkomitmen yang lebih jauh sehingga kita semua dapat berelasi dengan siapapun tanpa perasaan berat dan sakit hati karena semua posisi sudah jelas dilakoni dan sudah mengetahui konsekuensinya baik positif dan negatif di masa yang akan datang.

(Terima kasih untuk Septy dan Mia untuk inspirasi ceritanya. Kita tidak akan pernah lupa berhujan hujan di ciumbuleuit Bandung hanya untuk sepiring roti bakar dan kopi panas)