Hey, is he…? Is she….? Or even…we are?
Liburan! Huhuy deh...jauh-jauh hari sebelum hari ‘bebas merdeka’ tiba kami memang telah sibuk merencanakan ‘pengungsian’ dengan berbagai plan A hingga Z, jadi kalau yang satu gagal kami dengan senang hati pindah ke rencana yang lain dan sebagainya. Kami memang tidak mempunyai waktu khusus untuk membicarakan rencana ini, tapi setidaknya dalam setiap pekerjaan yang kami lakukan selalu ada kesempatan dalam kesempitan untuk melakukannya. Fasilitas e-mail (saling kirim e-mail antar meja komputer dalam satu ruangan...untuk menghindari tatapan mata mencurigakan ‘the three killers alias para atasan) memudahkan kami untuk bergerilya merencanakan sesuatu selengkap-lengkapnya. Pura-pura mengetik surat untuk klien padahal...hi hi hi. Sudah pasti kami tidak berkonsentrasi berkerja 100%, namun kami melakukannya pada sore hari. Alhasil dengan curi-curi seperti ini membuat satu rencana tidak pernah tuntas dalam waktu yang sesingkat-singkatnya dan dalam e-mail selalu tertulis....’to be continued’. Dan ‘to be continued’ nya versi kami ini bisa berlanjut lewat sms, telepon rumah bermenit-menit. Fahri, Mila dan saya, yang kebetulan kuliah malam di kampus yang sama namun fakultas berbeda, sering rendezvous malam-malam sambil menunggu di pohon gelap(ih..) atau di kantin melanjutkan topik rencana liburan. Paling untung kalau ada pembatalan kuliah...langsung pulang dan siap dengan ‘halo-halo’ by phone.
Setelah merembukkan masalah, merumuskannya, dan mendapatkan keputusannya, akhirnya kami sepakat untuk menyewa villa di kawasan lembang. Alih-alih ketika hari Rabu tiba, Pak Dadang dan Sandra yang kebetulan mendapatkan tugas outreaching ke salah satu desa di Subang, Jawa Barat masih berusaha mampir ke vila-vila yang sudah diset daftarnya oleh saya dan Mila. Nina, seperti biasanya, mengurus soal-soal perbekalan (maklum, semakin dingin cuaca, semakin banyak ransum yang diperlukan untuk menghangatkan diri...padahal memang sudah karung beras dari lahirnya..). Kamis paginya Sandra dengan bersemangat menceritakan telah menemukan villa di pinggir jalan lembang (dalam gambarannya saya memperkirakan bahwa yang dimaksudnya adalah bungalow besar..) plus harga yang huy,...untungnya tidak terlalu mahal dan masih cukup untuk uang saku di dompet dan makan (ampun..). Masalah terbesar adalah bagaimana apabila tiba-tiba ada pekerjaan mendadak yang harus dilakukan pada hari Sabtu..maklum, kalau ada hal-hal yang demikian terjadi, daripada gaji melayang dan reputasi jadi buruk terpaksa deh liburan hanya tinggal rumusan perencanaan (masih bisa dirasakan sensasinya ketika curi-curi waktu kerja). Nah, urusan demikian adalah tanggung jawab Nina dan saya yang berusaha segiat-giatnya untuk mengosongkan pekerjaan pada hari Sabtu (yang memang biasanya libur), memeriksa ulang agenda, terutama dengan klien-klien yang ‘sangat suka’ berurusan pada hari sabtu sehingga memasukkan agenda mereka ke hari Jum’at...(walaupun kami harus bekerja hingga agak larut dan selamat tinggal kuliah untuk Fahri, Mila dan saya...). Ketiga ‘atasan ‘(bos, assistant, dan sekertaris) pernah saling bertanya mengapa kami begitu ‘heboh’ meluangkan waktu sedemikian rupa, yah jawabannya hanya untuk mengefektifkan waktu saja ...bisa ditebak jawaban yang sangat ‘klise tidak perpendidikan’ ini tetap tidak bisa memuaskan pertanyaan yang dimaksud, namun otak kami telah terlanjur terisi tentang ‘villa, makanan, liburan, hang out’.....
Setiap usaha memerlukan waktu, tenaga, dan pengorbanan..(jika perlu koleksi ‘white lies’nya versi kami siap menghiasi jawaban dari setiap pertanyaan) dan biasanya pengorbanan berakhir dengan dua hal, keberuntungan dan kesialan. Hari ini kami menemukan keberuntungan...Hari sabtu yang indah, kami berangkat dari kantor tepat jam 9 pagi, berbelanja terlebih dahulu di salah satu supermarket di jalan setiabudhi, apalagi kalau bukan makanan dan camilan yang memiliki porsi terbanyak dalam kantung belanja. Siap-siap urunan uang kas untuk membayar uang villa (kali ini saya yang pegang) dan tepat jam 12 siang kami memasuki villa dengan keadaan ‘lusuh’ alias kecapekan gara-gara macet menuju ke arah sana. Ronde berikutnya adalah mandi, taruh-taruh barang, dan siap-siap ‘ngejreng’ jalan-jalan sekalian makan siang. Cuaca nampak kurang kompak dengan keinginan kami...hujan rintik-rintik mulai turun dan angin besar mulai berhembus..wah ngga sehat nih, kami akhirnya memutuskan pulang dengan tentengan makan siang dan beberapa kantung susu murni berbagai rasa dan yogurt..(.Sandra dan Nina berkeras ingin mampir ke tempat Susu murni yang terkenal itu walaupun dalam rencana kami bagusnya sih hari minggu sekalian makan siang dan ngemil..)
Setelah ngobrol sana sini, ada sms yang masuk dan kami tertawa tertahan mengetahui bahwa ternyata ada klien yang terpaksa ditangani oleh sekretaris kantor..(kami pun telah menitipkan pesan pada softboard bahwa kami sedang ada acara keluarga ke luar kota, pokoknya dont disturb deh...sambil terpikir wah kalau kami di’amuk’ sang sekretaris, but anyway...enjoy holiday dong..), terus putar-putar area sekitar villa, ber-say hi sama tetangga kiri-kanan, akhirnya kami menemukan satu pojokan dengan kursi kayu dan pemandangan ke arah gunung dan ke bawah kota. Wah tempat bagus nih buat ngobrol habis-habisan..Baru saja hendak menapakkan kaki ke arah sana, pak dadang berteraik hujan..hmmm batal deh bersantai-santai. Akhirnya saya mengusulkan untuk kesana malam hari saja setelah makan malam. Ngobrol sambil nyamil sambil melihat Bandung dari atas bukit..nikmatnya .Nina, bahkan dalam doa sembahyangnya (dan kebetulan terdengar bisikannya oleh saya..Amien) mengharapkan cuaca yang kompak pada malam hari alias no hujan dan dalam hati saya mengamini doanya kepada Sang Pencipta.
Makan malam tiba. Makan di pinggir jalan pun menjadi pilihan sandra dan nina...dan Fahri menunjuk ke arah penjual ketan bakar sedangkan saya dan Mila ‘ribut’ apakah perlu beli jagung bakar segala rasa atau tidak karena takut tidak termakan. Pada akhirnya...he he beli juga. Setibanya di tempat peristirahatan fahri menggelar tikar plastiknya dan kami duduk duduk di dekat tempat yang tadi sore sudah direncanakan. Doanya Nina manjur. Selama kami di sana melepaskan kepenatan, makan dan ngobrol-ngobrol tidak ada tanda-tanda hujan sedikitpun. Akhirnya. Sedangkan Sandra sibuk dengan bantal kecilnya, Mila akhirnya sibuk pula dengan jagung bakarnya (yang tadi ngotot tidak mau dibelinya). Sampai pada akhirnya dari mulut Nina terlontar kata-kata yang membuat saya (dan teman-teman lainnya menghentikan kunyahannya sementara)..”pacar saya biseksual”
Sandra, Mila, Fahri, dan Pak Dadang saling berpandangan.
Dan saya pun terperangah memandang Nina.
Nina pun memandang kami kosong dan masih mengunyah jagung bakarnya.
Tidak tahu apa yang akan kami katakan dan juga nina
Dia melemparkan pandangannya jauh ke bawah kota bandung yang berkerlap-kerlip di malam hari dari tempat kami duduk dan makan sekarang.
Tampak sesuatu telah lepas bebas dari beban nina.
Namun masih tertinggal ‘sesuatu’ yang masih ingin dilepaskan oleh kawan kami tersebut.
Dalam kerlap-kerlip lampu kota bandung, saya masih dapat melihat nina meneteskan airmatanya, namun berusaha keras menahan suaranya agar tidak keluar. Detik kemudian Mila merengkuh bahunya dan terdengar suara tangisan nina.
Saya menjadi tidak karuan.
Begitu pula dengan yang lainnya.
(to be continued)